Sabuk Inten
Di dalam SERAT CENTINI BAB II yang ditulis oleh R. Ngabehi Ronggowarsito. Menuliskan tentang keris yang memiliki nama berbeda-beda antara satu dengan lainnya.
Jenis-jenis keris tersebut memiliki beberapa tingkatan antara lain, keris yang dipakai sebagai pusaka keraton diberi gelar Kanjeng Kyai, dan keris yang dibuat oleh seorang Mpu namun menduplikat atau mutrani atau mirip dari keris yang pertama kali dibuat oleh Mpu sebelumnya disebut dengan istilah DHAPUR.
Jenis keris pun ada bermacam-macam ada yang Lurus dan ada yang berlekuk. Untuk yang Luk (Istilah keris berlekuk) mulai dari luk 1 sampai luk 29, bisa dibayangkan bukan nama-nama keris yang ada pasti ada ribuan.
Untuk bisa mengetahui berbagai nama macam keris, kita harus mengetahui dahulu ricikan-ricikan atau ornamen yang terdapat pada sebuah keris. Sebuah keris pastilah memiliki ricikan sebagai dasar untuk menentukan nama dhapur keris tersebut.
Gambar ini adalah contoh janis dhapur keris dengan ricikannya :
Dhapur Sabukinten memiliki ricikan dengan bilah ber-Luk 11, pada bagian gandik nya terdapat kembang kacang, jalen, lambe gajah , sogokan dua, dan pada bagian belakang terdapat sraweyan dan greneng.
Sabuk inten mengandung falsafah dengan makna sebagai berikut,
Sabuk atau ikat pinggang sebagai simbol yang mengartikan bahwa Manusia Jawa untuk menggapai cita-cita nya harus berani laku prihatin. Dalam bahasa jawanya sregep agawe kamulyan artinya kerja keras yang sungguh akan menjadikan kemuliaan / kejayaan.
Inten atau intan adalah sebuah permata yang merupakan simbol dari Kemewahan duniawi , atau kesuksesan.
Jadi falsafah atau makna yang terkandung didalam Keris Sabuk Inten ini meng-harapkan agar orang yang memiliki keris ini , hidupnya kaya raya ,mulia dan mudah dalam menggapai semua cita-citanya.
Selain itu dhapur ini juga mengandung makna, bahwa sesuatu yang lebih berharga adalah hati, dimana kemuliaan manusia akan ditentukan oleh dasar berbudi luhur dan etika yang baik.
Keris Sabuk Inten ini menjadi terkenal dari kalangan pecinta tosan aji hingga ke masyarakat awam, karena mungkin mendengar dari kisah legendanya.
Jadi ketika kita memiliki sebuah keris haruslah sangat berhati-hati dalam menentukan nama dhapurnya, tidak perlu bingung dan tergesa-gesa karena nama-nama dhapur banyak terdapat pada buku-buku keris. Dengan mengetahui nama dhapur sebuah keris kita dapat memprediksi apa sebenarnya maksud dan tujuan keris itu dipesan dan dibuat.
Orang Jawa menafsirkan bentuk dari bilah keris itu bukan sekedar untuk memberikan sajian tentang kekuatan (isoteri) dan keindahan (eksoteri) belaka.
Pada kehadiran nya yang merupakan sebuah simbolik juga mengandung makna-makna yang mendalam, dengan pesan-pesan moral, etika serta ajaran yang adiluhung. Sebagian masyarakat khususnya orang Jawa memiliki keyakinan tertentu terhadap keris miliknya.
Dengan kandungan yang sarat akan maknawi tersebut, maka keris memiliki nilai-nilai yang adiluhung, dan secara terus menerus dianggap akan memiliki relevansi untuk diwariskan kepada generasi ke-generasi berikutnya. Meski saat ini keris tidak lagi menjadi senjata utama yang diperlukan di dalam kehidupan masyarakat.
Selain itu, keris juga dianggap sebagai suatu bagian dari pemikiran orang Jawa terhadap Kepercayaannya, wujud idealisme yang menerangkan ajaran "Manunggaling kawula klawan Gusti" Dengan istilah "Curiga Manjing warangka, warangka manjing curiga"
đđ§đ˘đŻđđŤđŹđ˘đđđŹ đđđ đđŤđ˘ đđĽđ˘đ§đ đŚđđŚđđđĄđđŹ đđđŹđđŤ-đđđŹđđŤ đđ˘đđđĽđđŚ đŚđđ§đđŚđđđĄ đ˘đĽđŚđŽ đ¤đđŹđđđđŤđđ§ . đŹđđŁđđŤđđĄ đđŽđđđ˛đ, đđđŤđ˘đđ đŤđđ¤đ˛đđ đĄđ˘đ§đ đ đ đ§đŽđđ§đŹđ đŠđđŤđđ˘đ§đđđđ§ đ˛đđ§đ đđđŤđđđ§đđŽđ¤ đđ˘đ¤đŹđ˘.
Selasa, 25 Juli 2023
KERIS SABUK INTEN
Senin, 24 Juli 2023
BETHOK KABUDHAN
Pada zaman dulu keris merupakan sebuah senjata yang selalu dimiliki oleh orang-orang yang hidup di masa kerajaan, tetapi keris bukanlah senjata yang khusus dibuat untuk senjata perang melainkan untuk senjata tikam.
Keris juga digunakan sebagai pelengkap upacara adat, pelengkap busana "Ageman", juga sebagai hadiah untuk mengikat tali persaudaraan maupun digunakan sebagai piandel dalam kepercayaan adat istiadat masyarakat Jawa.
Pada umum nya Keris dibuat Panjang lurus dan berkelok seperti yang sering kita lihat dengan berbagai ornamen sebagai penghias nya.
Pembuatan keris sendiri memerlukan beberapa bahan seperti besi, baja dan pamor.
Zaman dulu seorang Mpu yang mumpuni dibidang pembuatan keris akan memerlukan waktu yang lama dalam pembuatan sebilah keris, karena selain Sang Mpu harus prihatin, Sang Mpu juga memerlukan waktu untuk menemukan atau mencari bahan pamor. Sebab bahan pamor ini yang sulit didapatkan di bumi maka Sang Mpu harus bisa "Manunggal" Untuk memohon kepada Gusti Kang Murbeng Dhumadi. Bahan pamor yang dimaksud adalah meteorid yang jatuh ke Bumi. Meteorid ini lah bahan pencampuran antara besi , baja dan meteorid. Salah satu ajaran yang selalu tertuang didalam sebuah keris "Ibu Bumi ( besi dan baja), Bopo Angkoso (meteorid)". Maka ketika Ibu Bumi dan Bopo Angkoso bercampur lahirlah sebuah maha karya yang luar biasa dan adiluhung ini dan disebut keris.
Keris-keris di Nusantara banyak ditandai dengan perbedaan disetiap Pamor nya. Dan Dalam pamor itu sendiri terdapat filosofi kehidupan yang melekat dan menjadi sebuah motivasi bagi sang pemegang nya.
Dalam Sejarah Perkerisan Jawa ada sebuah keris yang dinamakan "Bethok". Dengan bentuk lebar, lurus dan tebal, keris model " Bethok " Ini merupakan keris yang terlihat sangat sederhana tanpa oranamen sebagai penghias nya.
Diperkirakan "Bethok" Dibuat pada masa ke-emasan kerajaan Budha di Nusantara, maka biasanya disebut dengan "Keris Bethok Ka-Budhan",
keris-keris ka-budhan selain sederhana, ia memiliki karakteristik besi yang berbeda dari besi keris pada umum nya. Besi di Keris Bethok seolah pencampuranya tampak seperti tanah liat atau nglempung.
Apabila dilakukan perendaman atau penjamasan,besinya akan cepat menyerap, seolah-olah besi keris ka-budhan bisa menyerap dengan cepat apapun yan ada disekitarnya. Tak heran para kolektor keris selalu tidak ketinggalan dengan keris yang satu ini, karena sifat nya sebagai "Tindih" Atau penetral keris-keris lainnya. Penetral yang dimaksud disini sebagai peredam energi bagi keris-keris yang bersifat panas atau beraura negatif.
Di ajaran Jawa, yang Tua/sepuh lah yang paling dihormati,
Meskipun tidak berlaku secara kaku, dalam tatanan sosial masyrakat Jawa, namun diutamakan yang didahulukan. Jadi adalah hal yang lumrah bila kemudian di dalam dunia perkerisan, keris ka-budhan diletakkan sebagai sesepuh (dianggap paling tua) dan diyakini bisa meredam aura-aura negatif dari keris-keris yang lebih muda.
Untuk saat ini di era modern keris bukan lagi menjadi sebuah alat senjata namun sebagai pelengkap busana khusus nya Jawa (identitas) atau sebagai koleksi yang luhur. Sebagai seorang yang lahir dan besar di Jawa saya wajib menjaga dan merawat peninggalan-peninggalan ini istilah nya nguri-nguri, kalau bukan kita siapa lagi?
UNESCO saja pada tahun 2005 mengakui bahwa keris merupakan peninggalan sejarah asli Negara Republik Indonesia sebagai Non-Benda.
SURA
Bulan SURA Jawa dan MUHARRAM Islam
SURO = Sumurupe Roso ( Terang nya Hati )
SURO = Sangkan Urip Roso Obah (Dari Hidup Rasa itu bergerak)
Dalam kalender Jawa, malam 1 Sura / Suro selalu bertepatan / beriringan dengan peringatan malam 1 Muharram. Orang Jawa sendiri menggunakan sistem penanggalan Versi Hindu Jawa dan Islam Jawa.
Versi Hindu Jawa menggunakan sistem hitungan peredaran Bumi mengelilingi Matahari yang disebut tahun "saka" , sementara Versi islam Jawa menggunakan sistem perhitungan peredaran bulan yang dikenal "Hijriyah". Maka sejak bertemu nya islam dan Jawa di Nusantara , Sultan Agung dari Mataram Islam mempertemukan ke-dua sistem penanggalan Jawa Hindu dan Jawa Islam tersebut tepatnya pada 1034 H atau 1555 Saka.
Dalam penentuan tahun dan tanggal 1 Sura/ Muharram Orang Jawa pada umum nya menggunakan versi tahunan Asapon ( Tahun Alip Hari Selasa Pasaran Pon) dan Aboge (Tahun Alip Hari Rabu Pasaran Wage). Tetapi juga ada beberapa versi nama tahunan lainnya, seperti Ajumanis (Tahun Alip Hari Jum'at Pasaran Manis/Legi) dan Amiswon (Tahun Alip Hari Kamis Pasaran Kliwon).
Menurut kepercayaan Jawa dulu , malam 1 Suro dikenal dengan malam yang sakral dan penuh aura mistis. Maka tak heran banyak masyarakat dari dulu hingga sekarang yang masih menganut dan memegang kepercayaan tersebut, salah satunya dengan kegiatan mencuci pusaka di malam 1 suro. Dan banyak juga yang melakukan tirakatan entah itu dengan melakukan puasa, berdiam diri(meditasi), menyepi kedalam hutan, gunung maupun tempat-tempat yang dianggap wingit atau angker, namun ada pula yang melakukan kegiatan tradisi adat Jawa seperti kirab pusaka yang dilakukan oleh Keraton-keraton Jawa.
Ada sebuah mitos yang menyatakan, bahwa malam 1 Suro adalah malam buruk dalam satu tahun, yang mana dimalam itu dan khusus nya dibulan itu dilarang mengadakan kegiatan acara seperti pernikahan ataupun khitanan. Padahal sebenarnya malam 1 Sura ataupun bulan Sura itu bukan malam atau bulan yang buruk melainkan malam dan bulan yang sangat dihormati oleh kalangan orang-orang Jawa dan orang-orang islam.
Bagi orang Jawa, bulan Suro merupakan salah satu bulan sakral setelah Puasa. Jika bulan Puasa penuh dengan ritual ke-agama-an sedangkan Suro lebih ketirakat atau prihatin.
Jika di bulan Sura dilarang mengadakan kegiatan acara seperti pernikahan, inipun dikarenakan orang Jawa menghormati para Keturunan Kanjeng Nabi Muhammad, yang dimana pada saat itu telah terjadi pembantaian yang keji di padang Karbala.
Karena itulah, acara seperti pernikahan dianggap sangat tidak etis jika digelar , yang intinya merayakan kebahagiaan di saat suasana sedang berduka. Dengan dilarang nya segala kegiatan acara pernikahan tersebut menjadi tanda penghormatan kepada Kanjeng Nabi dan seluruh keturunannya.
Suro = Sumurupe Roso
Suro = Sangkan Urip Roso Obah
Bulan Sura adalah bulan yang sakral dan bulan yang sangat dihormati oleh kalangan spiritual dan supranatural. Para pelaku spiritual dan supranatural entah itu datang dari Agama, kedjawen dan aliran-aliran lainnya biasanya akan melakukan tirakatan, karena dibulan ini dipercayai bulan yang cocok untuk mengasah Ilmu dan prihatin.
Laku prihatin dengan berbagai macam metode salah satunya dengan cara puasa atau poso. Poso sendiri bagi kalangan kedjawen di maknai dengan Ngeposne Roso atau mengistirahatkan rasa, mengistirahatkan roso artinya mengistirahatkan atau meredam rasa perasaan yang menjadi sumber-sumber kekotoran batin bagi dirinya hingga menjadi manusia yang tercerahkan bisa disebut Sumurupe Roso atau Hati yang bercahaya.
Para pelaku spiritual dan supranatural percaya dengan laku tirakatan dan dengan prihatin yang luar biasa, mereka akan menemukan Sangkan Urip (Asalnya Hidup) Roso Obah (Rasa itu bergerak), yang artinya asalnya hidup itu dari rasa yang bergerak. Rasa yang bergerak yang dimaksud adalah Rasa / Hati yang hidup tidak mati. Maka ketika Rasa itu hidup maka ia akan Menemukan asalnya hidup. Dalam istilah Jawa "Sangkan Paraning Dumadi".
Jadi ketika para pelaku sudah benar-benar menemukan Suro nya diri, tidak akan ada ketakutan yang menghalangi untuk selalu dekat dengan Yang Maha Hidup. Dan di isyarahkan dengan kata SURO / WANI / TATAG yang artinya siap menghadapi bahaya (kesulitan yg amat sangat), sehingga semboyan yg selalu di ingat adalah
"SEPIRO GEDHENE SENGSORO YEN TINOMPO AMUNG DADI COBO (sebesar apapun ujian jika dijalani hanya akan menjadi cobaan).
Sebuah nasehat kecil untuk kita renungkan
"Ketika engkau sudah membuat keputusan yang tepat, jangan pedulikan perasaanmu, Lebih baik menderita sehari, sebulan, atau bahkan setahun dengan keputusan mental yang benar, daripada menderita selama sisa hidupmu dengan keputusan hati yang salah"
Foto : Sasono Handrowino
#JagadDewaBathara
Jumat, 21 Juli 2023
Kekunaan Jimbe, Kyai Sengkelat dan Legenda Mpu Supo
Dahulu kala saat era kerajaan Majapahit, hiduplah seorang Mpu pembuat keris, bernama Mpu Supo atau Mpu Supo Mandrangi. Beliau merupakan Salah seorang Mpu yang termasyur dijaman nya hingga menurunkan Mpu-mpu selanjutnya sampai sekarang yang masih tersambung dengan Mpu Supo Mandrangi.
Dikisahkan, pada Saat itu Salah satu Keris pusaka milik Kerajaan Majapahit hasil karya Mpu Supo hilang, maka seketika itu Sang Raja menugaskan Mpu Supo untuk mencarinya.
Mpu Supo melanglang buana, berjalan mencari ke arah selatan dari Ibu Kota Kerajaan Majapahit (Mojokerto) hingga sampailah di daerah yang sekarang disebut Jimbe.
Kekunaan Jimbe berada didesa Jimbe Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar.
Di daerah ini Mpu Supo sempat singgah lama dan membuat sebuah besalen atau pandai besi untuk membuat karya-karya dari besi.
Karya Mpu Supo itu mulai dari alat pertanian hingga senjata perang yang berupa keris, tombak pedang dll. Pada waktu itu Keris pusaka buatan Mpu Sopo yang sangat terkenal yaitu keris "Kyai Umyang Jimbe".
Situs kekunaan jimbe dulunya hanya berupa puing-puing bebatuan dari besalen peninggalan Mpu Supo, tapi sekarang sudah dibuat seperti rumah untuk menyimpan peninggalan peninggalan Mpu Supo.
Di kekunaan ini biasa didatangi oleh orang orang yg lelaku atau sekedar berwisata religi, dengan niat yg berbeda beda.
Dalam kisah perjalanan mencari keris pusaka yang hilang Mpu Supo tidak berhasil menemukan benda pusaka itu di Jimbe dan sekitarnya.
Mpu Supo lantas melanjutkan perjalanan hingga wilayah kerajaan Blambangan, disana Mpu Supo juga bermukim lama dan membuat alat-alat tani dan senjata. Mpu Supo menyamarkan namanya agar tidak diketahui oleh orang-orang disana bahwa beliau merupakan utusan dari kerajaan Majapahit.
Kabar adanya seorang Mpu yang handal dalam membuat berbagai senjata itu sampailah kepada telinga Raja Blambangan.
Mpu Supo akhirnya dipercaya karena kualitas alat-alat tani dan senjata buatan nya sangat bagus, beliau diangkat jadi Mpu ndalem oleh Kerajaan Blambangan.
Disanalah beliau berhasil mendapatkan Keris yang dicarinya dan berupaya membuat salinan yg sama persis dengan keris yang hilang tersebut.
Salinan keris tersebut biasa disebut "mutrani" dengan ciri ricikan yang sama persis dengan keris kerajaan Majapahit yaitu Kyai Sangkelat. Kemudian Duplikat keris itu ditinggalkan di Blambangan tanpa sepengetahuan pembesar kerajaan bahkan Sang Raja.
Karena Mpu Supo sudah berhasil mendapatkan keris Kyai Sengekelat itu maka dibawalah keris asli itu pulang kembali ke Kota Raja Kerajaan Majapahit.
Sesampainya Mpu Supo di kerajaan Majapahit, Sang Raja pun terlihat senang atas kerja kerasnya mendapatkan kembali keris pusaka kerajaan tersebut.
Atas jasanya tersebut kemudian Mpu Supo diberi hadiah tanah perdikan di daerah Sedayu dan bergelar Mpu Sedayu.
https://www.blitarterkini.com/khasanah/8859556841/kisah-kekunaan-jimbe-kademangan-blitar-kyai-sengkelat-dan-legenda-mpu-supo-dari-majapahit
MBah Tatok MBlitar
KITAB SULUK SUNAN BONANG
(1) Bismi'llahi'rrah'mani'rrahimi, wa bihi nasta’in alhamdu lillahi rabbil alamin, wa shalatu 'ala rasulihi Muhammadi...
-
(1) Bismi'llahi'rrah'mani'rrahimi, wa bihi nasta’in alhamdu lillahi rabbil alamin, wa shalatu 'ala rasulihi Muhammadi...
-
KUNCI. PAWELING. ASMO. MIJIL. SINGKIR. (Didalam Wahyu Panca Ghaib) 1. KUNCI ęŚꦸęŚ꧀ęŚꦶ : “Kunci” Pengertian Kunci. Adalah; Kumpul Nunggal ...
-
SANGKAN PARANING DUMADI Didalam ajaran jawa dikenal dengan istilah Sangkan Paraning Dumadi yang mengajarkan tentang ajaran Asal muasal manus...



