Selasa, 25 Juli 2023

KERIS SABUK INTEN

 

Sabuk Inten


Di dalam SERAT CENTINI BAB II yang ditulis oleh R. Ngabehi Ronggowarsito. Menuliskan tentang keris yang memiliki nama berbeda-beda antara satu dengan lainnya. 

Jenis-jenis keris tersebut memiliki beberapa tingkatan antara lain, keris yang dipakai sebagai pusaka keraton diberi gelar Kanjeng Kyai, dan keris yang dibuat oleh seorang Mpu namun menduplikat atau mutrani atau mirip dari keris yang pertama kali dibuat oleh Mpu sebelumnya disebut dengan istilah DHAPUR. 


Jenis keris pun ada bermacam-macam ada yang Lurus dan ada yang berlekuk. Untuk yang Luk (Istilah keris berlekuk) mulai dari luk 1 sampai luk 29, bisa dibayangkan bukan nama-nama keris yang ada pasti ada ribuan.

Untuk bisa mengetahui berbagai nama macam keris, kita harus mengetahui dahulu ricikan-ricikan atau ornamen yang terdapat pada sebuah keris. Sebuah keris pastilah memiliki ricikan sebagai dasar untuk menentukan nama dhapur keris tersebut.


Gambar ini adalah contoh janis dhapur keris dengan ricikannya :


Dhapur Sabukinten memiliki ricikan dengan bilah ber-Luk 11, pada bagian gandik nya terdapat kembang kacang, jalen, lambe gajah , sogokan dua, dan pada bagian belakang terdapat sraweyan dan greneng.

Sabuk inten mengandung falsafah dengan makna sebagai berikut, 

Sabuk atau ikat pinggang sebagai simbol yang mengartikan bahwa Manusia Jawa untuk menggapai cita-cita nya harus berani laku prihatin. Dalam bahasa jawanya sregep agawe kamulyan artinya kerja keras yang sungguh akan menjadikan kemuliaan / kejayaan.

Inten atau intan adalah sebuah permata yang merupakan simbol dari Kemewahan duniawi , atau kesuksesan. 

Jadi falsafah atau makna yang terkandung didalam Keris Sabuk Inten ini meng-harapkan agar orang yang memiliki keris ini , hidupnya kaya raya ,mulia dan mudah dalam menggapai semua cita-citanya.

Selain itu dhapur ini juga mengandung makna, bahwa sesuatu yang lebih berharga adalah hati, dimana kemuliaan manusia akan ditentukan oleh dasar berbudi luhur dan etika yang baik. 


Keris Sabuk Inten ini menjadi terkenal dari kalangan pecinta tosan aji hingga ke masyarakat awam, karena mungkin mendengar dari kisah legendanya. 


Jadi ketika kita memiliki sebuah keris haruslah sangat berhati-hati dalam menentukan nama dhapurnya, tidak perlu bingung dan tergesa-gesa karena nama-nama dhapur banyak terdapat pada buku-buku keris. Dengan mengetahui nama dhapur sebuah keris kita dapat memprediksi apa sebenarnya maksud dan tujuan keris itu dipesan dan dibuat.

Orang Jawa menafsirkan bentuk dari bilah keris itu bukan sekedar untuk memberikan sajian tentang kekuatan (isoteri) dan keindahan (eksoteri) belaka. 

Pada kehadiran nya yang merupakan sebuah simbolik juga mengandung makna-makna yang mendalam, dengan pesan-pesan moral, etika serta ajaran yang adiluhung. Sebagian masyarakat khususnya orang Jawa memiliki keyakinan tertentu terhadap keris miliknya. 

Dengan kandungan yang sarat akan maknawi tersebut, maka keris memiliki nilai-nilai yang adiluhung, dan secara terus menerus dianggap akan memiliki relevansi untuk diwariskan kepada generasi ke-generasi berikutnya. Meski saat ini keris tidak lagi menjadi senjata utama yang diperlukan di dalam kehidupan masyarakat.

Selain itu, keris juga dianggap sebagai suatu bagian dari pemikiran orang Jawa terhadap Kepercayaannya, wujud idealisme yang menerangkan ajaran "Manunggaling kawula klawan Gusti" Dengan istilah "Curiga Manjing warangka, warangka manjing curiga"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KITAB SULUK SUNAN BONANG

  (1) Bismi'llahi'rrah'mani'rrahimi, wa bihi nasta’in alhamdu lillahi rabbil alamin,  wa shalatu 'ala rasulihi Muhammadi...