Bulan SURA Jawa dan MUHARRAM Islam
SURO = Sumurupe Roso ( Terang nya Hati )
SURO = Sangkan Urip Roso Obah (Dari Hidup Rasa itu bergerak)
Dalam kalender Jawa, malam 1 Sura / Suro selalu bertepatan / beriringan dengan peringatan malam 1 Muharram. Orang Jawa sendiri menggunakan sistem penanggalan Versi Hindu Jawa dan Islam Jawa.
Versi Hindu Jawa menggunakan sistem hitungan peredaran Bumi mengelilingi Matahari yang disebut tahun "saka" , sementara Versi islam Jawa menggunakan sistem perhitungan peredaran bulan yang dikenal "Hijriyah". Maka sejak bertemu nya islam dan Jawa di Nusantara , Sultan Agung dari Mataram Islam mempertemukan ke-dua sistem penanggalan Jawa Hindu dan Jawa Islam tersebut tepatnya pada 1034 H atau 1555 Saka.
Dalam penentuan tahun dan tanggal 1 Sura/ Muharram Orang Jawa pada umum nya menggunakan versi tahunan Asapon ( Tahun Alip Hari Selasa Pasaran Pon) dan Aboge (Tahun Alip Hari Rabu Pasaran Wage). Tetapi juga ada beberapa versi nama tahunan lainnya, seperti Ajumanis (Tahun Alip Hari Jum'at Pasaran Manis/Legi) dan Amiswon (Tahun Alip Hari Kamis Pasaran Kliwon).
Menurut kepercayaan Jawa dulu , malam 1 Suro dikenal dengan malam yang sakral dan penuh aura mistis. Maka tak heran banyak masyarakat dari dulu hingga sekarang yang masih menganut dan memegang kepercayaan tersebut, salah satunya dengan kegiatan mencuci pusaka di malam 1 suro. Dan banyak juga yang melakukan tirakatan entah itu dengan melakukan puasa, berdiam diri(meditasi), menyepi kedalam hutan, gunung maupun tempat-tempat yang dianggap wingit atau angker, namun ada pula yang melakukan kegiatan tradisi adat Jawa seperti kirab pusaka yang dilakukan oleh Keraton-keraton Jawa.
Ada sebuah mitos yang menyatakan, bahwa malam 1 Suro adalah malam buruk dalam satu tahun, yang mana dimalam itu dan khusus nya dibulan itu dilarang mengadakan kegiatan acara seperti pernikahan ataupun khitanan. Padahal sebenarnya malam 1 Sura ataupun bulan Sura itu bukan malam atau bulan yang buruk melainkan malam dan bulan yang sangat dihormati oleh kalangan orang-orang Jawa dan orang-orang islam.
Bagi orang Jawa, bulan Suro merupakan salah satu bulan sakral setelah Puasa. Jika bulan Puasa penuh dengan ritual ke-agama-an sedangkan Suro lebih ketirakat atau prihatin.
Jika di bulan Sura dilarang mengadakan kegiatan acara seperti pernikahan, inipun dikarenakan orang Jawa menghormati para Keturunan Kanjeng Nabi Muhammad, yang dimana pada saat itu telah terjadi pembantaian yang keji di padang Karbala.
Karena itulah, acara seperti pernikahan dianggap sangat tidak etis jika digelar , yang intinya merayakan kebahagiaan di saat suasana sedang berduka. Dengan dilarang nya segala kegiatan acara pernikahan tersebut menjadi tanda penghormatan kepada Kanjeng Nabi dan seluruh keturunannya.
Suro = Sumurupe Roso
Suro = Sangkan Urip Roso Obah
Bulan Sura adalah bulan yang sakral dan bulan yang sangat dihormati oleh kalangan spiritual dan supranatural. Para pelaku spiritual dan supranatural entah itu datang dari Agama, kedjawen dan aliran-aliran lainnya biasanya akan melakukan tirakatan, karena dibulan ini dipercayai bulan yang cocok untuk mengasah Ilmu dan prihatin.
Laku prihatin dengan berbagai macam metode salah satunya dengan cara puasa atau poso. Poso sendiri bagi kalangan kedjawen di maknai dengan Ngeposne Roso atau mengistirahatkan rasa, mengistirahatkan roso artinya mengistirahatkan atau meredam rasa perasaan yang menjadi sumber-sumber kekotoran batin bagi dirinya hingga menjadi manusia yang tercerahkan bisa disebut Sumurupe Roso atau Hati yang bercahaya.
Para pelaku spiritual dan supranatural percaya dengan laku tirakatan dan dengan prihatin yang luar biasa, mereka akan menemukan Sangkan Urip (Asalnya Hidup) Roso Obah (Rasa itu bergerak), yang artinya asalnya hidup itu dari rasa yang bergerak. Rasa yang bergerak yang dimaksud adalah Rasa / Hati yang hidup tidak mati. Maka ketika Rasa itu hidup maka ia akan Menemukan asalnya hidup. Dalam istilah Jawa "Sangkan Paraning Dumadi".
Jadi ketika para pelaku sudah benar-benar menemukan Suro nya diri, tidak akan ada ketakutan yang menghalangi untuk selalu dekat dengan Yang Maha Hidup. Dan di isyarahkan dengan kata SURO / WANI / TATAG yang artinya siap menghadapi bahaya (kesulitan yg amat sangat), sehingga semboyan yg selalu di ingat adalah
"SEPIRO GEDHENE SENGSORO YEN TINOMPO AMUNG DADI COBO (sebesar apapun ujian jika dijalani hanya akan menjadi cobaan).
Sebuah nasehat kecil untuk kita renungkan
"Ketika engkau sudah membuat keputusan yang tepat, jangan pedulikan perasaanmu, Lebih baik menderita sehari, sebulan, atau bahkan setahun dengan keputusan mental yang benar, daripada menderita selama sisa hidupmu dengan keputusan hati yang salah"
Foto : Sasono Handrowino
#JagadDewaBathara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar