Sabtu, 21 Agustus 2021

REALISASI KESADARAN DIRI


 


*

Kesadaran diri (sejati) adalah ke-BENING-an,  ke-NATURAL-an yang bersifat TAMIM (utuh) atau “kesatuan” dengan kebenaran – persepsi langsung atau pengalaman akan kebenaran oleh kemampuan intuisi sang jiwa yang mengetahui segalanya.

“Realisasi-diri (sejati) adalah pengetahuan – dalam tubuh, pikiran, dan jiwa – bahwa kita adalah satu dengan kemahahadiran Tuhan; bahwa kita tidak harus berdoa agar hal itu datang kepada kita, bahwa kita tidak hanya dekat denganNya setiap saat, tetapi bahwa kemahahadiran Tuhan adalah kemahahadiran kita; bahwa kita adalah bagian dari Dia sekarang dan seperti selalu demikian adanya. Yang harus kita lakukan adalah meningkatkan pengetahuan kita.”

Semua kekuatan untuk mengetahui meminjam kemampuannya dari intuisi. Ungkapan intuisi tertinggi adalah melalui mana jiwa mengetahui dirinya sendiri: Yang mengetahui, yang diketahui, dan pengetahuan adalah satu…

Intuisi murni adalah intuisi jiwa -mengetahui jiwa melalui jiwa; melihat jiwa dengan mata jiwa, begitulah. Di sini tidak ada modifikasi intuisi — seperti intuisi intelek, atau prana, atau pikiran, atau materi. Seorang yogi di keadaan ini berada di atas mereka semua – yang mengetahui, yang diketahui, dan pengetahuan telah menjadi satu. Ia sepenuhnya sadar akan Jati Dirinya. Ini adalah kesadaran jiwa yang nyata; dan, pada kenyataannya, itu adalah kesadaran Tuhan, karena jiwa disadari sebagai tidak lain dari refleksi Spirit/Roh.

Alasan mengapa Tuhan tetap tidak dikenal oleh jutaan orang yang menyembah-Nya di kuil-kuil dan gereja-gereja, dan di kota-kota suci dan tempat-tempat ziarah, adalah bahwa instrumen fisik pengetahuan hanya dapat menangkap produk-produk Sang Pencipta;

Keilahian sendiri dipersepsikan oleh kemampuan intuisi supramental, kekuatan yang diberikan Tuhan untuk mengetahui kebenaran. Ketika kegelisahan mental terhenti dan kesadaran diinternalisasi, bersentuhan dengan jiwa, kemampuan intuisi yang mengungkapkan Tuhan dibangunkan.

Praktikkan kebenaran yang engkau dengar dan baca, sehingga itu bukan hanya sebuah gagasan tetapi keyakinan yang lahir dari pengalaman. Jika membaca buku-buku tentang teologi memuaskan hasratmu akan Tuhan, engkau belum memahami tujuan agama. Jangan puas dengan kepuasan intelektual tentang kebenaran. Ubah kebenaran menjadi pengalaman, dan engkau akan mengenal Tuhan melalui realisasi diri (sejati) mu sendiri.


Jumat, 20 Agustus 2021

HAQIQAT NUR MUHAMMAD

 Bismillah




Nur Muhammad di populerkan oleh Ibnu Mansyur Al Hallaj lanjutan dari konsep HULUL nya
Nur Muhammad merupakan asal atau sumber dari segala
sesuatu , segala kejadian, amal perbuatan dan ilmu pengetahuan . Dan dengan perantaraan Nur Muhammad itulah Alam ini dijadikan. Nur Muhammad bisa
diartika juga sebagai pusat kesatuan alam dan pusat kesatuan nubuwwat segala Nabi.
Dan nabi-nabi itu, nubuwwat-nya ataupun dirinya hanyalah sebagian dari Nur Muhammad itu.
Segala macam ilmu, hikmat dan nubuwwat adalah pancaran dari Nur Muhammad.
Menurut Al Hallaj, kejadian Nabi Muhammad terbentuk dari dua rupa.
👉 Pertama,
rupanya yang QADIM dan AZALI, yaitu dia telah terjadi sebelum terjadinya segala yang ada ini.
👉Kedua,
ialah rupanya sebagai manusia, sebagai seorang Rasul dan
Nabi yang diutus TUHAN. Rupa sebagai manusia akan mengalami maut, tetapi rupa yang QADIM akan tetap ada meliputi Alam.
Paham tentang Nur Muhammad ini berdasar pada hadis, yaitu : “Aku berasal dari cahaya Tuhan dan
seluruh dunia berasal dari cahayku”.
Dan paham ini kemudian
dikembangkan dan disebarluaskan oleh Muhyiddin Ibnu Arabi dan
Abdul Karim al Jili dalam kerangka ide Insan Kamil.
Dalam teori kejadian Alam dari Nur Muhammad ini nampak adanya pengaruh ajaran filsafat.
Kalau dalam filsafat Islam, teori terjadinya alam semesta
diperkenalkan oleh al Farabi dengan mentransfer teori emanasi Neo Platonisme Plotinus, maka dalam tasawuf teori ini mula-mula diperkenalkan oleh Al Hallaj
dengan konsep barunya yang disebut Nur Muhammad atau Haqiqah Muhammadiyah sebagai sumber dari segala yang maujud.

KITAB SULUK SUNAN BONANG

  (1) Bismi'llahi'rrah'mani'rrahimi, wa bihi nasta’in alhamdu lillahi rabbil alamin,  wa shalatu 'ala rasulihi Muhammadi...