Rabu, 13 Agustus 2025

KITAB SULUK SUNAN BONANG

 



(1) Bismi'llahi'rrah'mani'rrahimi, wa bihi nasta’in

alhamdu lillahi rabbil alamin, wa shalatu 'ala rasulihi Muhammadin wa washabihi ajma'in.

Nyan punika caritanira Sekhul Bari tatkalanira apitutur dateng mitranira kabeh ; kang pinituturaken wirasaning Usul Suluk - Wedaling carita saking (2) Kitab Ihya 'ulum aldin lan saking Tamhid - antukira Sekhul Bari ametet i(ng) ti(ng)kahing sisimpenaning nabi wali mukmin kabeh.




PUPUH I

Mangka akecap Sekhul Bari - kang sinalametaken dening pangeran : e-Mitraningsun! sira kabeh den sami angimanaken wirasaning Usul Suluk i(ng)kang kapetet ti(ng)kahing anakseni ing pangeran ; miwah kawruhana yan sira pangeran tunggal, tan kakalih; saksenana yan sira pangeran asifat saja suksma mahasuci tunggalira, tan ana papadanira, kang mahaluhur. e Mitraningsun ! 

den sami amiarsaha, sampun sira sak malih ; den sami aneguhaken, sampun gingsir idepira.

Iki si lapale tingkahing anakseni ing pangeran : “Wa ash’hadu an 

la ilaha illa llahu wah’dahu, la sharika lahu wa 

ash;hadu anna Muhammadan rasulu llahi”.

(3) Tegese ikU: ingsUn anakseni | kahananing pangeran kang anama 

Allah, kang asifat saja suksma, langgeng kekel wibuh sampurna 

purba qadim sifatira mahasuci, orana pangeran sabenere anging 

Allah uga, pangeran kang sinembah sabenere kang agung.


e-Mitraningsun ! sang siptaning lapal “ora” iku: dening sampun awit 

itbat karihin, nora malih anaksenana i(ng)kang nora yakti ; tanpa 

wiyos idepe wong iku mene.

Kalawan ingsun anakseni yan baginda Muhammad kawulaning Allah 

kang sinihan, ingutus agama islam iya iku i(ng)kang tinut dening nabi 

wali mukmin kabeh.

e-Mitraningsun ! karana satuhune lapal “nora” iku: nora malih 

angorakena satuhuning Allah pangeran, nora malih angorakena 

pange(ra)n siya siya - tegesing siya siya (4) iku kadi ta ana | peken barang kakasihe: nora malih. Yan mo(ng)konoa salah tunggal den orakena kupur uga wong iku mene. Kewala si lapal “nora” iku: sikeping wong kang sinung wasil 

paningale kang antuk pastining iman sakadare ika. Kewala lapal „nora" iku: i(ng)kangandelingaken mahasucining pangeran jan tunggal tanpa kufu’ iku siptane kang anduweni sabda iku.

Lan norana papadaning Allah pangeran. E-Mitraningsun Sang siptane lapal kang ingorakaken iku iya i(ng)kang orana pisan papadaning Allah pangeran. Tegesing sang sipta iku : dening mantep ananira uga kang andelingaken ing mahasucinira ing piambekira, mapan orana kang Iyan saking Allah pangeran. Kaya apa ta idepe wong iku mene yan anaha papadaning pangeran, duk sadurunge angucap (5) “orana pangeran” iku, | wus pasti ing idepe yan anging Allah pangeran kang sabenere, kang sinembah kang pinuji kang tunggal andadeken satuhune kang agung.

Mangka a(na)bda Sekhul Bari: e-Mitraningsun! karana i(ng)kang napi iku sawusing itbat, karana, duk angucap: “orana pangeran” iku, wus awit itbat: “anging Allah uga pangeran kang sabenere”. Iku salamete ujar iku.

Sabtu, 09 Agustus 2025

ASTANA GEDONG JEJAK SEJARAH ARKEOLOGI ISLAM TULUNGAGUNG

๐˜ผ๐™จ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™– ๐™‚๐™š๐™™๐™ค๐™ฃ๐™œ: ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™ฎ๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™–๐™ฅ ๐™…๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™ˆ๐™–๐™ ๐™–๐™ข ๐™๐™ช๐™– ๐™™๐™ž ๐˜ฝ๐™–๐™ก๐™ž๐™  ๐™ˆ๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ž ๐™‰๐™–๐™ข๐™– ๐™†๐™š๐™ฉ๐™–๐™ฌ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ





Pada awal abad ke-18, Jawa Tengah dan Timur berada dalam pusaran pergolakan politik yang rumit. Kerajaan Mataram, yang berpusat di Kartasura, berusaha mempertahankan kendali atas wilayah-wilayah strategis setelah masa panjang perang internal dan disintegrasi. Tahun 1709, ketika Pakubuwana I naik takhta, sebagian besar daerah telah kembali di bawah panji Mataram. Hanya Pasuruan dan sekitarnya yang tetap kukuh di tangan Untung Surapati, tokoh pemberontak yang menjadi duri dalam daging kekuasaan Jawa.




Antara 1709–1719, tercatat masa relatif damai sebelum pecah Perang Surabaya yang melibatkan penumpasan Bupati Surabaya, Adipati Jayapuspita, sekutu Surapati. Meski demikian, Mataram masih dibebani kewajiban berat kepada VOC yaitu menyerahkan komoditas tertentu sesuai perjanjian. Untuk memenuhi kewajiban itu, Pakubuwana I menyusun daftar daerah yang wajib menyetor hasil bumi kepada VOC, yang juga menjadi potret pembagian wilayah kekuasaan saat itu.


Di antara struktur wilayah yang tercatat, terdapat Mancanagara Timur, dan terbagi menjadi dua kawedanan:


1. Kawedanan Tumenggung Surawijaya di Jipang membawahi Jipang, Madiun, Rawa-Kalangbret (Tulungagung sekarang), Jagaraga, Pacitan-Kadawung, Japan, Selakaras, dan Warung-Kuwu.


2. Kawedanan Adipati Ketawengan  membawahi Kediri-Balitar, Srengat, Kertasana, Pace, Japan, Wirasaba, Panaraga, dan Blora.


Nama Adipati Ketawengan inilah yang kelak sering dikaitkan dengan sebuah kompleks makam tua di Astana Gedong, Tulungagung. Namun, penyelidikan epigrafi memunculkan misteri baru yang tak kunjung usai untuk diteliti lebih lanjut . Di sisi selatan makam utama, terdapat nisan bertanggal dengan aksara Jawa Kuna 1470 Saka (1548 M), hampir seabad sebelum berdirinya Mataram Islam. Artinya, mustahil makam utama di situ merupakan pusara pejabat Mataram Kartasura awal abad ke-18.


Kaidah tata letak makam Islam di Jawa biasanya menempatkan makam utama atau tertua di bagian utara, barat, atau tengah dengan jirat tinggi. Kehadiran nisan tua di sisi selatan justru mengisyaratkan bahwa kompleks tersebut sudah eksis jauh sebelum masa Pakubuwana I, bahkan sebelum Mataram berdiri.


Ngabei Katwengan: Penguasa Kediri dan Sekutu Surapati


Sosok Katwengan juga terekam dalam catatan asing. Tahun 1706, seorang pendeta Yezuit Belanda, Francois Valentijn, mengunjungi Kediri dan menulis dalam karyanya Oud en Nieuw Oost-Indien (1862):


> "Kota Kediri kerajaan terbesar, dan terletak istana di negeri itu, memiliki kepala Ngabei Ketawengan, keluarga dekat Surapati, dan putrinya dikawinkan oleh salah seorang putera Surapati. Kota Kediri luasnya sekitar 2 mil, dan berpenduduk 10.000 rumah tangga."

(Valentijn, 1862, hlm. 204)


Catatan ini menegaskan Kediri sebagai pusat kekuasaan penting di pedalaman Jawa Timur, sekaligus mengungkap hubungan erat Katwengan dengan Untung Surapati, aliansi politik yang jelas berseberangan dengan kepentingan VOC dan Kartasura.


Sumber arsip VOC tahun 1737 masih menyebut Katwengan sebagai penguasa Kediri, namun pada 1743 namanya digantikan Tumenggung Suradaha. Sejarawan H.J. de Graaf berpendapat Katwengan bukan sekadar nama seorang pejabat, melainkan gelar sebuah dinasti lokal (vorstenhuis) yang memerintah Kediri pada abad ke-18. Sedikitnya ada empat penguasa Kediri yang menyandang gelar Katwengan selama periode sebelum abad ke 18 itu.


Dalam catatan nya, Kediri memiliki wilayah sekitar dua mil dan penduduk 10.000 rumah tangga merupakan sebuah jumlah besar . Kediri menjadi pusat administrasi, perdagangan, dan pertanian subur di lembah Brantas. Letak strategisnya menjadikan kota ini rebutan kekuatan lokal dan pusat kekuasaan Kartasura.


Di tingkat lokal, dinasti Katwengan memainkan peran penting, baik sebagai mitra maupun penantang kekuasaan pusat, tergantung arus politik dan jaringan aliansi.


Astana Gedong: Warisan yang Lebih Tua dari Mataram


Keterkaitan nama Katwengan dengan makam utama di Astana Gedong kemungkinan besar hanyalah asumsi yang lahir dari kemiripan nama dan tradisi lisan, bukan bukti historis yang kuat. Bukti epigrafi dan tipologi nisan justru menunjukkan bahwa kompleks pemakaman itu sudah ada sejak abad ke-16, jauh sebelum figur Katwengan yang dikenal dalam catatan Mataram.


Dengan demikian, penisbatan makam utama di Astana Gedong sebagai makam Tumenggung atau Adipati Ketawengan kemungkinan besar hanyalah asumsi yang terlanjur hidup, tanpa dasar sejarah yang kokoh. Yang tersisa kini adalah jejak sunyi sebuah pemakaman kuno, yang menyimpan kisah lebih tua dari riwayat Mataram itu sendiri yang menunggu untuk diungkap kembali.


Referensi :


Ricklefs, M. C. (1993). War, culture and economy in Java, 1677–1726: Asian and European imperialism in the early Kartasura period. Sydney: Asian Studies Association of Australia in association with Allen & Unwin and University of Hawai'i Press.


Wikipedia. (2025, Agustus 10). Kesultanan Mataram. Dalam Wikipedia bahasa Indonesia. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram


Scribd. (n.d.). Kesultanan Mataram. Diakses 10 Agustus 2025, dari https://id.scribd.com/document/810206906/Kesultanan-Mataram


Valentijn, F. (1862). Oud en Nieuw Oost-Indien (Vol. 3). Amsterdam: Wed. J.C. van Kesteren & Zoon.


De Graaf, H. J. (1977). Kediri en het geslacht Katwengan van 1500–1700. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 133, 420–437.



BEKAM

 

Titik Bekam

Titik bekam 1


Titik bekam Merujuk pada titik spesifik pada badan yang dipilih oleh pembekam untuk pasien. Setiap titik mempunyai fungsi tersendiri, dan pemilihan titik yang betul bergantung pada masalah kesehatan yang ingin diatasi. Titik bekam biasanya berdasarkan prinsip pengobatan tradisional Cina, akupunktur, dan juga teori refleksiologi.

Misalnya, titik kaku pada bahagian belakang leher, atau pinggang mempunyai tujuan tertentu seperti meredakan sakit otot, meningkatkan peredaran darah, atau menyembuhkan masalah organ dalaman.

Titik bekam adalah elemen utama dalam berbekam. Pemilihan tempat yang tepat berdasarkan keadaan kesehatan dapat memberikan kesan yang positif dalam merawat berbagai masalah kesehatan. Berbekam bukan saja membantu mengurangi sakit dan peradangan, tetapi juga meningkatkan kesehatan secara keseluruhan melalui peningkatan peredaran darah dan pengeluaran toksin.

Terdapat berbagai jenis titik yang digunakan dalam bekam:

1. Titik Sunnah

Kalau kita lebih amati dari sejarah atau hadis², kebanyakan poin² sunah lebih tertumpu ke lokasi tubuh yang mengalami sakit di dalam sistem tubuh yang mengalami gangguan fungsi normal. Rasulullah pernah berbekam pada bagian kaki, pinggul & kepala yang sedang mengalami sakit . Kebanyakan titik sunah juga berada atau sangat hampir pada titik-poin akupunktur atau berada di atas jalur² meridian tertentu. Selain meningkatkan pelancaran peredaran darah bekam juga bisa mengeluarkan bibit2 penyakit/CPS, pengaktifan “chi/qi” pada poin² akupunktur yang terangsang tanpa sengaja melalui bekam juga berupaya memberikan sejumlah kesan terapeutik & pelbagai manfaat kesehatan.

2. Titik Organ /Anatomikal

Pembekam boleh memilih poin² yang terletak pada organ² yang bermasalah dan untuk mendapatkan poin organ yang tepat sudah tentu sekurang-kurangnya memerlukan ilmu/pengetahuan asas dalam ilmu anatomi. Poin antara 2 tulang belikat/intrascapular region (T2-T5) juga termasuk dalam kategori ini, selanjutnya menjadi antara poin pilihan para penyelidik termasuklah Dr Salah Mohamed El Sayed (pencadang Teori Taibah) yang menggunakan poin ini untuk menyingkir zat besi berlebihan dalam kes Talasemia. Rasulullah juga pernah berbekam pada area ini selepas baginda diracun suatu ketika dahulu kala. Area intrascapular terletak pada jaringan adiposa berwarna coklat (coklat) yang diisi dengan pembuluh² darah & limfa, berhampiran dengan ganglia simpatik, saluran toraks & pembuluh darah utama dari jantung dan otak.



3. Titik Meridian /Akupuntur

Ini juga merupakan poin terpenting terutama dalam Perubatan Cina Tradisional/TCM. Menurut falsafah TCM, bekam pada poin² akupunktur tertentu dapat mengatasi keceriaan di antara Yin dan Yang selain melancarkan tenaga kehidupan yang digelar sebagai “Chi atau Qi”. Kaedah pemilihan poin² ini juga memerlukan pengetahuan atau kemahiran dalam perawatan akupunktur. Penggunaan poin akupunktur P6 untuk terapi bekam umpamanya dapat mengatasi gejala mual & muntah paska penyakit. Kajian lain juga menunjukkan bahawa bekam pada poin BL23 efektif mengurangkan tahap kesakitan selepas melahirkan anak (Postpartum Perineal Pain).

4. Titik Sakit /Keluhan/Tender

Pengamal bekam perlu melakukan tekanan atau urutan untuk mencari poin yang lebih tinggi tahap sakitnya. Jika tiada kontraindikasi untuk melakukan bekam pada poin berkenaan, pengamal bekam boleh memilih poin ini sebagai poin pilihan pertama selain poin² bekam yang lain. Teori Pain Gate & teori DNIC memberikan penjelasan rinci bagaimana bekam pada poin ini berupaya mengurangkan tahap rasa sakit yang dialami.

Titik Organ Belakang



a) Paru-paru
b) Perikardium (selaput jantung)
c) Jantung
d) Hati
e) Pundi hempedu
f) Limpa
g) Buah pinggang
h) Usus besar
i) Usus kecil
j) Pundi kencing

Titik Bekam Kepala



Ummul Mughits (puncak kepala) – ุฃู… ุงู„ู…ุบูŠุซ

Letaknya pada tulang tengkorak pada bahagian atas agak ke belakang, tepatnya pada tulang ubun-ubun, di 2/3 bahagian depan.

Berada di puncak kepala (VERTEX), titik pertemuan antara garisan puncak (apex) cuping telinga kiri & kanan dan garisan sagittal suture.

Titik ini disebut juga titik “pertemuan seratus penyakit” (seratus pertemuan) dan “ibu segala penyakit” (ummu mughits). Titik ini merupakan tempat yang berhubungan dengan pergerakan dan sensor tubuh (area motorik dan sensorik).

  • Berfungsi untuk merawat sakit kepala, strok, kejang, sawan, vertigo, tinitus (telinga berdengun), gangguan jiwa, sinus, gayat, tekanan darah tinggi, keseimbangan hormon, uban, stress dan pengaruh sihir, pening, sakit mata (merah), hemoroid, organ² terturun (prolaps), tajamkan ingatan, kemurungan dsbnya.

Dari Ibnu Umar ra bercerita bahawa:

ูƒَุงู†َ ุงู„ู†َّุจูŠُ ุตَู„ู‰َ ุงู„ู„ู‡ ُุนَู„َูŠู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَุญْุชَุฌِู…ُ ููŠِ ุฑَุฃْุณِู‡ِ ูˆَูŠُุณَู…ِّูŠู‡َุง ุฃُู…َّ ู…ُุบِูŠุซٍ

“Nabi Muhammad saw pernah berbekam di kepalanya dan menyebutnya dengan Ummu mughits”  (Kitab al-Fawaaid, dinilai hasan oleh al-Albani)

Qomahduah (belakang kepala) – ุงู„ู‚ู…ุญุฏูˆุฉ

Terletak pada bagian belakang tulang kepala, iaitu di sekeliling bonjolan tulang, di antara dua telinga. kalau seseorang itu tidur terlentang maka qomahduah adalah kebahagiaan yang menempel di tanah, sekitar arteri basilar.

Tempat ini merupakan daerah yang berhubungan dengan pusat penglihatan (area optik)

  • berfungsi merawat sakit kepala, darah tinggi, migrain, tuli, kaku lidah, epilepsi (sakit saraf), leher kaku, gayat, merawat 72 jenis penyakit.

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan ุดِูَุงุกٌ ู…ِู†ْ ุงِุซْู†َูŠู†ِ ูˆَุณَุจْุนِูŠู†َ ุฏَุงุกً

“Hendaklah kalian berbekam di tengah qamahduah kerana ia dapat menyembuhkan 72 jenis penyakit” . (Diriwayatkan oleh Tirmizi dalam  sunan nya (2053), Ibnu Majah (3478), dan Hakim )

Yafukh (tengah kepala) – ุงู„ูŠุงููˆุฎ

Terletak di tengah kepala, iaitu pada titik pertemuan antara tulang tengkorak di hadapan dan belakang, iaitu di antara tulang ubun-ubun (os parietale) dan tulang dahi (os frontale).

Tempat ini merupakan daerah pengaturan pergerakan otot wajah dan otot-otot tubuh (chorea) dan area pengendali tremor.

  • berfungsi merawat sawan, pening kepala, sinus, kurang penglihatan, kejang, rinorea (lelehan lendir hidung).

Hammah ('Alaa Ro'sun atas kepala) – ุงู„ู‡ุงู…ุฉ

Terletak di bahagian depan (os frontalis) atau atas dahi.

  • berfungsi merawat sakit kepala, pening, gayat, stroke, pengaruh sihir, resdung.

Apa yang Harus Dilakukan Di Rumah Anda?

Naqroh (tulang leher) – ุงู„ู†ู‚ุฑุฉ   

Terletak di bahagian belakang leher pada aras tulang leher 1-7 . dari atas batas rambut belakang hingga ke tulang leher C7. Disebelahnya terdapat otak kecil (otak kecil), yang berbatasan dengan medula oblongata.

Tempat ini merupakan daerah pusat keseimbangan tubuh (balance area).

  • berfungsi merawat penyakit vertigo, gangguan, gangguan emosi, sakit kepala dan darah tinggi.

Udzun (belakang telinga) – ุงู„ุฃุฐู† 

Terletak di belakang telinga kiri dan kanan.

  • berfungsi merawat penyakit telinga berdengung, sukar bertutur, kurang pendengaran, lumpuh otot bahagian muka, dan bengkak bahagian muka.

Dzuqnu (dagu) – ุงู„ุฐู‚ู†

Terletak di dagu.

  • berfungsi untuk merawat penyakit yang berhubungan dengan kelemahan otot wajah, bengkak gusi, bengkak mata dan sakit gigi.

Akhda'ain (urat leher) – ุงู„ุฃุฎุฏุนูŠู† 

Terletak di sekitar otot-otot (urat leher) kanan dan kiri, setentang dengan tulang rahang bawah, iaitu di sekitar vena jugularis eksterna.

  • Berfungsi untuk merawat sakit beguk, kejang tengkuk, deman selsema, sakit telinga, rahang, sakit gigi, sakit behagian leher, kelenjar liur.

Kahil (bonggol belakang) – ุงู„ูƒุงู‡ู„

Terletak di sekitar bonjolan tulang leher (C7) bahagian belakang di antara bahu kanan dan kiri, setinggi bahu, sekitar arteri vertebralis.

  • Berfungsi untuk merawat penyakit jangkitan selaput otak (meningitis), asma, batuk, sawan, dan sakit sendi, kejang bahu. buang racun, rabun.

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„ู‰َ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَุญْุชَุฌِู…ُ ููŠِ ุงู„ุฃَุฎْุฏَุนَูŠู†ِ ูˆَุงู„ْูƒَุงู‡ِู„ِ ูˆَูƒَุงู†َ ูŠَุญْุชَุฌِู…ُ ู„ِุณَุจْุนِ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan

“Bahawasanya Rasulullah melakukan bekam di akhda'in dan di kahilnya pada hari ke 17, 19, dan 21″ . (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dari Anas)

Titik Bekam Badan



Munkib (bahu) – ุงู„ู…ู†ูƒุจ

Terletak di antara bahu dan leher.

  • berfungsi untuk pengubatan yang berhubungan dengan sakit bahu, sendi bahu dan sakit lengan.

Tsadyu (buah dada) – ุงู„ุซุฏูŠ

Terletak di bawah dada.

  • berfungsi untuk pengubatan mengenai batuk, sakit dada, sukar bernapas, jangkitan dada dan seput (asma)

Asfalas Shodr – ุฃุณูู„ ุงู„ุตุฏุฑ 

Terletak di dada bahagian bawah, kiri dan kanan.

Qithon (saraf cawan muka) – ุงู„ู‚ุทุงู†

Terletak di bahagian punggung antara tulang lumbal ke -4 dan tulang sakral pertama (L4,S1).

  • berfungsi untuk merawat masalah yang berkaitan dengan gangguan kitaran haid, keputihan, jangkitan pundi kencing dan mati pucuk.

Maq'idah (saraf tunjang sum) – ุงู„ู…ู‚ุนุฏุฉ

Terletak di bahagian tulang punggung (kanan dan kiri).

  • berfungsi untuk merawat sciatica (sakit saraf, kebas), gangguan kitaran haid, lumbago (sakit tulang belakang), sembelit, buasir.

Warik (pangkal peha) – ุงู„ู€ูˆุฑูƒ

Terletak pada pangkal peha (antara sendi femur dengan panggul), dekat caput femoris. iaitu bahagian bawah belakang tulang pinggul.

  • Berfungsi untuk merawat lenguh dan sengal pada pinggul dan bahagian bawah belakang badan (nyeri punggung bawah).

ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุงุญْุชَุฌَู…َ ุนَู„َู‰ Perlindungan Lingkungan

Titik Bekam Kaki



Fakhd – ุงู„ูุฎุฐ 

Terletak di bahagian depan dan belakang peha, samping dalam dan luar.

  • Berfungsi untuk merawat masalah sakit ketika membuang air kecil, gangguan kitaran haid dan kekejangan ginjal.

Rukba h –  ุงู„ุฑูƒุจุฉ 

Terletak di bahagian kanan kiri atau atas lulut.

  • Berfungsi untuk sakit pinggang, sakit sendi lutut, jangkitan pundi kencing, senggugut dan gangguan kitaran haid.

Saaq – ุงู„ุณุงู‚ 

Letaknya di bawah, antara betis dan pergelangan tangan kaki.

  • Berfungsi untuk merawat penyakit gangguan penghadaman, masalah perut, gangguan kitaran haid, senggugut dan keputihan.

Iltiwa' – ุงู„ุฅู„ุชูˆุงุก  

Terletak di bahagian bawah buku lali.

  • Berfungsi untuk merawat masalah pernafasan, suka tidur, sembelit, senggugut, penyakit ginjal, gangguan kencing, radang paru-paru, sakit belakang, lemah syahwat, kesuburan.

Zhohrul Qodam – ุธู‡ุฑุงู„ู‚ุฏู…

Terletak di tengah-tengah bahagian atas kaki.

  • Berfungsi untuk merawat masalah muntah, sakit yang berhubungan dengan perut, sakit bahagian leher dan gangguan penglihatan, menghilangkan keletihan di kaki, kebas-kebas.

Dari Anas ra :

ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุงุญْุชَุฌَู…َ ูˆَู‡ُูˆَ ู…ُุญْุฑِู…ٌ ุนَู„َู‰ ุธَู‡ْุฑِ ุงู„ْู‚َุฏَู…ِ ู…ِู†ْ ูˆَุฌَุนٍ ูƒَุงู†َ ุจِู‡ِ

bahawa Rasulullah berbekam dalam keadaan berihram pada bahagian permukaan kaki karena suatu penyakit yang beliau derita. (Diriwayatkan oleh Abu Daud)

Kesimpulan

  1. Kepentingan Titik Bekam : Titik bekam memainkan peranan penting dalam rawatan bekam kerana ia Merujuk kepada daerah tertentu pada badan yang dikaitkan dengan fungsi organ atau sistem tubuh. Bekam pada titik-titik ini dapat membantu merangsang aliran darah, mengurangkan rasa sakit, dan menyokong proses penyembuhan.
  2. Lokasi Strategis : Titik bekam biasanya terletak di kawasan yang mempunyai tempat berkumpulnya toksin atau gangguan energi, seperti bahagian belakang (punggung), leher, bahu, dan kaki. Setiap titik mempunyai kaitan dengan masalah kesihatan tertentu.
  3. Kesan Terapeutik : Rawatan bekam pada titik yang tepat dapat membantu merawat berbagai masalah kesihatan, termasuk sakit kepala, tekanan darah tinggi, masalah pencernaan, dan keletihan kronis. Ia juga berfungsi untuk memperkuat sistem imun dan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh.
  4. Perlu Pakar : Pemilihan titik bekam yang benar memerlukan pengetahuan mendalam tentang anatomi dan perawatan tradisional. Oleh karena itu, rawatan bekam sebaiknya dilakukan oleh ahli terapi yang berpengalaman untuk mengelakkan kesan sampingan atau komplikasi.
  5. Gabungan dengan Rawatan Lain : Bekam sering digabungkan dengan terapi lain seperti akupunktur atau herba untuk meningkatkan keberkesanannya dalam merawat berbagai penyakit.

Secara ringkasnya, titik bekam adalah tujuan utama dalam rawatan bekam yang memerlukan ketepatan dan kepakaran untuk memastikan keberkesanan dan keselamatan pesakit. Rawatan ini menawarkan pelbagai manfaat kesihatan jika dilakukan dengan benar mengikut prinsip perubatan Islam dan tradisional.



Rabu, 06 Agustus 2025

CANDI PENATARAN

 CANDI PENATARAN









Candi Penataran adalah Candi termegah dan terluas di wilayah Jawa Timur ,yang berada di Kecamatan Nglegok Desa Penataran Kabupaten Blitar . Candi Penataran pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh catatan Inggris pada tahun 1815, tetapi sampai tahun 1850 belum banyak dikenal.

Dari sumber (Wahyudi 2005:36) mencatat Candi Penataran menempati areal tanah seluas 12.946 meter persegi berjajar membujur dari barat laut ke timur dan tenggara. Seluruh halaman komplek percandian, kecuali yang bagian tenggara, dibagi menjadi tiga bagian, yang dipisahkan oleh dua dinding. Susunan dari komplek Candi Penataran yang sangat unik dan tidak tersusun simetris. Hal ini menunjukkan bahwa pembuatan candi tidak dalam satu periode.

Candi ini sebelumnya memiliki nama palah yang termuat didalam prasasti terbitan kerajaan Kadiri "Prasasti Palah (1119 Saka) yang menyebutkan pemberian tanah sima oleh Sri Srengga kepada rakyat Palah untuk menaungi bangunan suci pemujaan terhadap Bhattara i Palah.


Prasasti Palah



 Bhattara i Palah oleh sebagian sarjana disamakan dengan Dewa Siwa yang bergelar Girinata (Raja Gunung) (Lutfi, 1991)". 
Sedangkan Nagarakrtagama Menyebutkan bangunan tersebut didedikasikan kepada Sang Hyang Aล›alapati, nama lain Dewa Siwa (Lutfi 1991;Riana 2009).

Nama Palah juga telah diidentifikasi oleh Krom (1914:233-237) sebagai nama kompleks candi besar Panataran di kaki selatan Gunung Kรถlud di Jawa Timur. Tampaknya, tempat suci itu umumnya dikenal sebagai Rabut ("terhormat, suci") Palah. 

Candi Penataran ini sebenarnya dibangun oleh beberapa masa, yang dimulai dari era kerjaan Kadiri oleh Raja Srengga, hingga Majapahit dari Jayanegara, Tribhuwana , Suhita hingga Hayam Wuruk.
Candi yang berdiri sejak abad 12 ini ternyata masih ramai digunakan hingga awal abad 16.

Catatan dari bujangga manik (akhir abad ke15-awal abad ke-16) menambahkan informasi yang menyebutkan bahwa candi penataran terletak diantara Gunung Kawi dan Gunung Kampud (sekarang: Kฤ›lud) dan melewati "Gunung Aรฑar” yang tidak diketahui namanya. Catatan Pararaton juga menangkap adanya pernyataan bahwa pada tahun 1376 M ”hana gunung aรฑar”, "ada (atau, terbentuk) sebuah gunung baru" (Par. 29:34). 
Mungkin Karena kompleks gunung Kelud sangat vulkanik, sangat mungkin bahwa gunung "baru/anyar" telah terbentuk di sini dan bahwa gunung Aรฑar inilah yang dimaksud dalam catatan Pararaton.
 
Dalam catatan bujangga manik Setelah tiba di Gunung Kampud, barulah ia tiba di Rabut Pasajen, hulu dari Rabut Palah (II. 1055-1057). Hulu ini merupakan nama asli kompleks candi terbesar di Jawa Timur, yang sekarang dikenal sebagai Candi Panataran. Rabut Pasajen, dilihat dari arti namanya, "rabut (tempat suci) pasajen (untuk sesaji)", juga merupakan tempat keagamaan. Sebagai hulu (lit. "kepala/muara/pusat") tempat suci Palah, tempat ini mungkin merupakan pusat pemukiman atau administrasi utamanya, yang terletak lebih tinggi di atas gunung.

Dalam beberapa baris teks catatan Bujangga Manik, memberikan gambaran yang mengesankan tentang tempat suci Palah sebagai tempat pemujaan utama bagi orang Jawa di era kerajaan Majapahit. Aliran orang yang datang ke sini dari kota-kota terus mengalir:

... Rabut Palah, keturunan Majapahit yang disembah oleh orang Jawa.

Datang dan beribadah,

Disembahnya tidak rusak, yang berasal dari desa. (II.1057-1058, 1068-1070)

Rabut Palah, tempat suci Majapahit yang diagungkan oleh orang Jawa.

Orang-orang datang menyembah, mempersembahkan (emas, memberi penghormatan, tanpa henti, pergi ke mana-mana, datang dari kota-kota).

Namun dari teks ini, kita mengetahui bahwa Palah selain menjadi tempat suci dan pusat pengabdian masyarakat, juga merupakan pusat pembelajaran dan studi. 
Kembalinya Bujangga Manik ke Rabut Palah setelah kunjungan sebelumnya selama tahun-tahun magangnya (1. 172) bukan untuk tujuan mengikuti ibadah umum di sana, tetapi untuk menambah pengetahuannya. Ia menghabiskan waktunya di Palah dengan membaca karya sastra dan hukum dalam bahasa Jawa (Aing bisa carek Jawa, "Saya mengenal bahasa Jawa", 1. 1063). 

Dua gelar disebutkan di sini (11. 1060-1061). Salah satunya adalah Pandawa Jaya, yang pasti merujuk pada versi Jawa dari epos Mahabharata, mungkin salah satu Bharata Yuddha Jawa Kuno, yang terkait dengan Hikayat Perang Pandawa Jaya dalam bahasa Melayu (van der Tuuk 1875).

 Gelar kedua yang disebutkan, Darmaweya, kurang mudah dikenali. Mungkin itu adalah singkatan dari Dharmavidyรค, bahasa Sanskerta yang berarti "pengetahuan tentang hukum". Setidaknya hal itu berkaitan dengan masalah hukum (suci).


Komplek candi Penataran

Saat memasuki area candi , kita akan di sambut oleh Dwarapฤla Dipintu masuk dengan inskripsi Angka tahun 1232 ลšaka (1310 Masehi) terukir pada lapik masing-masing dwarapala yang dibangun oleh Raja Kedua Majapahit. 




Setelah melewati kedua penjaga Dwarapฤla ini, kita akan memasuki bangunan persegi panjang, yang berukuran panjang 37 meter, lebar 18,84 meter dan tinggi 1,44 meter disebelah barat laut. Di atas ada pelataran yang di masing-masing sudutnya ada umpak-umpak batu yang diperkirakan sebagai penumpu tiang-tiang kayu yang digunakan untuk atap bangunan. Fungsi bangunan Bale Agung menurut N.J. Krom seperti juga di Bali dipergunakan untuk tempat musyawarah para pendeta atau pendanda. Dipastikan bale atau pendopo ini pernah dinaungi struktur tiang dan atap dari bahan organik kayu dan mungkin beratap ijuk atau sirap yang kini telah lapuk dan musnah. 

Setelah dari Bale Agung kita akan menemui Pendapa Teras yang memiliki ukuran lebih kecil dari Bale Agung, yaitu 29,5m x 9,22m x tinggi 1,50. Pendapa Teras ini terdapat hiasan berupa naga yang berjumlah 8 ekor dan terdapat relief di dindingnya.

Tak jauh dari Pendapa Teras kita akan menjumpai Candi Angka Tahun , yang terbaca 1291 s atau 1369 Masehi yang terdapat pada ambang pintu masuk keruang Garbhagraha. 




Candi angka tahun





Didepan candi ini terdapat 2 arca yang berdiri berpakaian seperti dewa/bhatara , arca berpawakan laki-laki memegang aksamala dan bersenjatakan parasu(kapak). Sementara arca berpawakan wanita kedua tangan berada didepan dan kedua tangan belakang memegang aksamala dan padi.
Dihalaman ini juga terdapat sepasang miniatur candi.






Setelah melewati candi angka tahun , kita akan menjumpai bangunan persegi dengan ornamen naga yang melingkari bangunan dan di sangga oleh 9 bhatara dengan salah satu tangannya memegang lonceng. Menurut informasi candi ini disebut juga candi naga, dipugar pada tahun 1917-1918, dengan ukuran. 6,57x4,83 m dan tinggi 7,70m berbahan batu andesit. Selain itu pada dinding candi ini terdapat beberapa hiasan medalion.





OD-8079-Candi Penataran Denah dan elevasi candi naga dengan atap kayu bertingkat yang direkonstruksi (Tampak Selatan) [GD-07_211]-Blitar-1926



Kemudian pada bagian belakang atau halaman belakang terdapat Candi induk yang memiliki 3 teras. Teras pertama terdapat cerita Ramayana, di teras ke 2 terdapat cerita krsnayana dan pada teras ke 3 / atas terdapat hiasan berupa ukiran naga dan singa yang bersayap. Didepan candi induk terdapat 4 Mahakala berdiri diatas lapik Padma dengan 2 diantaranya terdapat hiasan Kapala yang mengindikasikan sebuah aliran dari tantrayana, sementara itu dari masing - masing Mahakala ini terdapat inskripsi di lapiknya.





Prasasti Palah
Prasasti yang hingga saat ini masih in-situ, berisi tentang pemberian tanah sima untuk seseorang Mpu Iswara Mapanji Jagwata yang telah berjasa karna telah melakukan puja setiap hari kepada Bhatara i Palah (OJO LXXIV)

Sumber :


Wahyudi, D. Y. (2005). Rekonstruksi keagamaan candi Panataran pada masa Majapahit (Tesis Magister, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia), Depok.

 Ismail Lutfi (1991) & N. J. Krom
 
Ismail Lutfi, M. (1991). Landasan keagamaan dan hukum pembangunan Kompleks Candi Penataran menurut Prasasti Palah. Jurnal Arkeologi, 75.
(Parafrase dari penelitian yang mengulas fungsi religius dan legal atas pembangunan kompleks Candi Penataran berdasarkan prasasti Palah; prasasti ini sebelumnya diterbitkan oleh J. L. A. Brandes dan N. J. Krom — “OJO”, no. LXXIV, hlm. 177.) 

Krom, N. J. (tahun tidak disebut). Analisis dan terbitan prasasti Candi Palah (Prasasti Palah, OJO no. LXXIV, hlm. 177).


Bujangga Manik's Journeys Through Java . Noorduyn, J., & Teeuw, A. (2009). Bujangga Manik: Manuscript of Old Sundanese narrative poetry (Bibliotheca Indonesica, Vol. 33). Leiden: KITLV Press.


Tripnesian. (2017, 17 Januari). Antara Candi Penataran dan kisah perjalanan Bujangga Manik. Tripnesian (blog).
(refleksi pada narasi Bujangga Manik yang menyebut “Rabut Palah” sebagai tempat sang tokoh belajar di Candi Penataran).

Mpu Prapanca. (c. 1365). Nagarakretagama.
(disebut dalam konteks Candi Penataran sebagai situs pemujaan Hyang Acalapat oleh Hayam Wuruk, sebagaimana dirujuk dalam literatur sejarah modern).

Santiko, H. (tahun tidak disebut). Candi Pantaran: Candi Kerajaan Masa Majapahit. Dalam penelitiannya, disebut bahwa pembangunan Candi Penataran (candi induk) dimulai pada masa Raja Jayanagara dan dilanjutkan hingga era Ratu Suhita, serta merupakan pusat spiritual dan tempat pendidikan agama (Kadewaguruan). 



IDN Times (editor). (2024, ditinjau). 5 fakta sejarah berdirinya Candi Penataran di Blitar. IDN Times.
(mencatat tujuan pendirian candi sebagai pelindung dari letusan Gunung Kelud, serta simbol Naga Basuki dan detail angka tahun Saka) 

Wikipedia. (2025). Penataran (Candi Penataran)(menjelaskan periode konstruksi abad ke‑12 hingga abad ke‑15, penyebutan dalam Nagarakretagama, serta fungsinya sebagai tempat keberagamaan Majapahit) 
Ismail Lutfi, M. (1991). Landasan keagamaan dan hukum pembangunan Kompleks Candi Penataran menurut Prasasti Palah. Jurnal Arkeologi, 75.
(Parafrase dari penelitian yang mengulas fungsi religius dan legal atas pembangunan kompleks Candi Penataran berdasarkan prasasti Palah; prasasti ini sebelumnya diterbitkan oleh J. L. A. Brandes dan N. J. Krom — “OJO”, no. LXXIV, hlm. 177.) 







KITAB SULUK SUNAN BONANG

  (1) Bismi'llahi'rrah'mani'rrahimi, wa bihi nasta’in alhamdu lillahi rabbil alamin,  wa shalatu 'ala rasulihi Muhammadi...