Senin, 24 Juli 2023

BETHOK KABUDHAN

BETHOK KA-BUDHAN


 


Pada zaman dulu keris merupakan sebuah senjata yang selalu dimiliki oleh orang-orang yang hidup di masa kerajaan, tetapi keris bukanlah senjata yang khusus dibuat untuk senjata perang melainkan untuk senjata tikam. 

Keris juga digunakan sebagai pelengkap upacara adat, pelengkap busana "Ageman", juga sebagai hadiah untuk mengikat tali persaudaraan maupun digunakan sebagai piandel dalam kepercayaan adat istiadat masyarakat Jawa. 

Pada umum nya Keris dibuat Panjang lurus dan berkelok seperti yang sering kita lihat dengan berbagai ornamen sebagai penghias nya. 


Pembuatan keris sendiri memerlukan beberapa bahan seperti besi, baja dan pamor. 

Zaman dulu seorang Mpu yang mumpuni dibidang pembuatan keris akan memerlukan waktu yang lama dalam pembuatan sebilah keris, karena selain Sang Mpu harus prihatin, Sang Mpu juga memerlukan waktu untuk menemukan atau mencari bahan pamor. Sebab bahan pamor ini yang sulit didapatkan di bumi maka Sang Mpu harus bisa "Manunggal" Untuk memohon kepada Gusti Kang Murbeng Dhumadi. Bahan pamor yang dimaksud adalah meteorid yang jatuh ke Bumi. Meteorid ini lah bahan pencampuran antara besi , baja dan meteorid. Salah satu ajaran yang selalu tertuang didalam sebuah keris "Ibu Bumi ( besi dan baja), Bopo Angkoso (meteorid)". Maka ketika Ibu Bumi dan Bopo Angkoso bercampur lahirlah sebuah maha karya yang luar biasa dan adiluhung ini dan disebut keris.

Keris-keris di Nusantara banyak ditandai dengan perbedaan disetiap Pamor nya. Dan Dalam pamor itu sendiri terdapat filosofi kehidupan yang melekat dan menjadi sebuah motivasi bagi sang pemegang nya. 


Dalam Sejarah Perkerisan Jawa ada sebuah keris yang dinamakan "Bethok". Dengan bentuk lebar, lurus dan tebal, keris model " Bethok " Ini merupakan keris yang terlihat sangat sederhana tanpa oranamen sebagai penghias nya. 

Diperkirakan "Bethok" Dibuat pada masa ke-emasan kerajaan Budha di Nusantara, maka biasanya disebut dengan "Keris Bethok Ka-Budhan", 

keris-keris ka-budhan selain sederhana, ia memiliki karakteristik besi yang berbeda dari besi keris pada umum nya. Besi di Keris Bethok seolah pencampuranya tampak seperti tanah liat atau nglempung.

Apabila dilakukan perendaman atau penjamasan,besinya akan cepat menyerap, seolah-olah besi keris ka-budhan bisa menyerap dengan cepat apapun yan ada disekitarnya. Tak heran para kolektor keris selalu tidak ketinggalan dengan keris yang satu ini, karena sifat nya sebagai "Tindih" Atau penetral keris-keris lainnya. Penetral yang dimaksud disini sebagai peredam energi bagi keris-keris yang bersifat panas atau beraura negatif. 

Di ajaran Jawa, yang Tua/sepuh lah yang paling dihormati, 

Meskipun tidak berlaku secara kaku, dalam tatanan sosial masyrakat Jawa, namun diutamakan yang didahulukan. Jadi adalah hal yang lumrah bila kemudian di dalam dunia perkerisan, keris ka-budhan diletakkan sebagai sesepuh (dianggap paling tua) dan diyakini bisa meredam aura-aura negatif dari keris-keris yang lebih muda.


Untuk saat ini di era modern keris bukan lagi menjadi sebuah alat senjata namun sebagai pelengkap busana khusus nya Jawa (identitas) atau sebagai koleksi yang luhur. Sebagai seorang yang lahir dan besar di Jawa saya wajib menjaga dan merawat peninggalan-peninggalan ini istilah nya nguri-nguri, kalau bukan kita siapa lagi? 

UNESCO saja pada tahun 2005 mengakui bahwa keris merupakan peninggalan sejarah asli Negara Republik Indonesia sebagai Non-Benda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KITAB SULUK SUNAN BONANG

  (1) Bismi'llahi'rrah'mani'rrahimi, wa bihi nasta’in alhamdu lillahi rabbil alamin,  wa shalatu 'ala rasulihi Muhammadi...