Kamis, 06 September 2018

SIAPA GURU SUCI

 GURU SUCI


Sidharta keluar dari kemewahan hidup di istana, menjadi seorang pertapa yang melarat. Miao Shan (Kwan Im) juga keluar dari kehidupan bangsawannya, menjadi seorang bikuni. Yesus pun menjalani kehidupan dengan sangat sederhana, tidak pernah ada bekal apapun yang Dia simpan. Maka doanya yang terkenal: "Berilah kami rezeki pada hari ini". Cukup hari ini saja, momen ini saja, besok ada momen tersendiri lagi.


Sangat penting bagi para Guru Suci untuk mengenal Diri Sejatinya. Apakah kebahagiaan yang Mereka rasakan berasal dari faktor eksternal (kemewahan), atau murni dari dalam Diri Sejati? Maka Mereka perlu keluar dari kemewahan untuk menjadi orang biasa, bahkan sangat miskin. Meskipun Mereka sebenarnya mampu menjadi kaya raya jika saja mau. Sehingga ketika dalam keadaan sangat miskin mampu bahagia, itu artinya kebahagiaannya murni dari dalam, murni dari kesucian.


Penyebab lain yang tidak kalah penting yaitu nantinya agar orang-orang yang mereka bimbing, tidak punya alasan untuk tidak berbuat cinta kasih dan bahagia. Ketika murid-murid mereka nantinya melihat bahwa Sang Guru yang sangat miskin saja bisa bahagia, maka mereka yang tidak miskin sudah seharusnya juga bisa bahagia. Bisa menebarkan cinta kasih yang tulus. 


Guru-guru Suci semacam itu selalu eksis sepanjang masa, mekanisme alam semesta akan selalu meng-create manifestasiNya. Sebab jiwa-jiwa yang tersebar di seluruh penjuru jagad raya ini memerlukan panduan murni, membutuhkan parameter suci. Dan itu harus berwujud manusia. Manusia-manusia suci sekelas Krisna, Sidharta, Tao, Muhammad, dll akan selalu ada sepanjang waktu.


Kematian tidak membawa serta harta dan fisik, sehingga jiwa-jiwa yang masih melekat kepada harta dan fisik, akan mengalami penderitaan di alam arwah. Rasa melekatnya menjadi siksaan sebab tidak ada cara pelampisannya. Dan dosa/karma juga menambahi beban jiwa di sana. Belum lagi yang kebingungan tidak tahu harus bagaimana, tidak paham proses selanjutnya perjalanan.


Sebab ternyata di sana tidak ada apapun sebagaimana diceritakan "kitab-kitab", Manusia telah banyak terjebak oleh simbol yang tersurat. Sesungguhnya semua manusia mampu menyaksikan kenyataan alam arwah itu di saat dirinya masih hidup seperti ini. Manusia memiliki semua pirantinya, sayangnya doktrin semua agama justru telah meng-kebiri kemampuan alamiah itu.



KITAB SULUK SUNAN BONANG

  (1) Bismi'llahi'rrah'mani'rrahimi, wa bihi nasta’in alhamdu lillahi rabbil alamin,  wa shalatu 'ala rasulihi Muhammadi...