CANDI PENATARAN
Candi Penataran adalah Candi termegah dan terluas di wilayah Jawa Timur ,yang berada di Kecamatan Nglegok Desa Penataran Kabupaten Blitar . Candi Penataran pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh catatan Inggris pada tahun 1815, tetapi sampai tahun 1850 belum banyak dikenal.
Dari sumber (Wahyudi 2005:36) mencatat Candi Penataran menempati areal tanah seluas 12.946 meter persegi berjajar membujur dari barat laut ke timur dan tenggara. Seluruh halaman komplek percandian, kecuali yang bagian tenggara, dibagi menjadi tiga bagian, yang dipisahkan oleh dua dinding. Susunan dari komplek Candi Penataran yang sangat unik dan tidak tersusun simetris. Hal ini menunjukkan bahwa pembuatan candi tidak dalam satu periode.
Candi ini sebelumnya memiliki nama palah yang termuat didalam prasasti terbitan kerajaan Kadiri "Prasasti Palah (1119 Saka) yang menyebutkan pemberian tanah sima oleh Sri Srengga kepada rakyat Palah untuk menaungi bangunan suci pemujaan terhadap Bhattara i Palah.
Prasasti Palah
Bhattara i Palah oleh sebagian sarjana disamakan dengan Dewa Siwa yang bergelar Girinata (Raja Gunung) (Lutfi, 1991)".
Sedangkan Nagarakrtagama Menyebutkan bangunan tersebut didedikasikan kepada Sang Hyang Aลalapati, nama lain Dewa Siwa (Lutfi 1991;Riana 2009).
Nama Palah juga telah diidentifikasi oleh Krom (1914:233-237) sebagai nama kompleks candi besar Panataran di kaki selatan Gunung Kรถlud di Jawa Timur. Tampaknya, tempat suci itu umumnya dikenal sebagai Rabut ("terhormat, suci") Palah.
Candi Penataran ini sebenarnya dibangun oleh beberapa masa, yang dimulai dari era kerjaan Kadiri oleh Raja Srengga, hingga Majapahit dari Jayanegara, Tribhuwana , Suhita hingga Hayam Wuruk.
Candi yang berdiri sejak abad 12 ini ternyata masih ramai digunakan hingga awal abad 16.
Catatan dari bujangga manik (akhir abad ke15-awal abad ke-16) menambahkan informasi yang menyebutkan bahwa candi penataran terletak diantara Gunung Kawi dan Gunung Kampud (sekarang: Kฤlud) dan melewati "Gunung Aรฑar” yang tidak diketahui namanya. Catatan Pararaton juga menangkap adanya pernyataan bahwa pada tahun 1376 M ”hana gunung aรฑar”, "ada (atau, terbentuk) sebuah gunung baru" (Par. 29:34).
Mungkin Karena kompleks gunung Kelud sangat vulkanik, sangat mungkin bahwa gunung "baru/anyar" telah terbentuk di sini dan bahwa gunung Aรฑar inilah yang dimaksud dalam catatan Pararaton.
Dalam catatan bujangga manik Setelah tiba di Gunung Kampud, barulah ia tiba di Rabut Pasajen, hulu dari Rabut Palah (II. 1055-1057). Hulu ini merupakan nama asli kompleks candi terbesar di Jawa Timur, yang sekarang dikenal sebagai Candi Panataran. Rabut Pasajen, dilihat dari arti namanya, "rabut (tempat suci) pasajen (untuk sesaji)", juga merupakan tempat keagamaan. Sebagai hulu (lit. "kepala/muara/pusat") tempat suci Palah, tempat ini mungkin merupakan pusat pemukiman atau administrasi utamanya, yang terletak lebih tinggi di atas gunung.
Dalam beberapa baris teks catatan Bujangga Manik, memberikan gambaran yang mengesankan tentang tempat suci Palah sebagai tempat pemujaan utama bagi orang Jawa di era kerajaan Majapahit. Aliran orang yang datang ke sini dari kota-kota terus mengalir:
... Rabut Palah, keturunan Majapahit yang disembah oleh orang Jawa.
Datang dan beribadah,
Disembahnya tidak rusak, yang berasal dari desa. (II.1057-1058, 1068-1070)
Rabut Palah, tempat suci Majapahit yang diagungkan oleh orang Jawa.
Orang-orang datang menyembah, mempersembahkan (emas, memberi penghormatan, tanpa henti, pergi ke mana-mana, datang dari kota-kota).
Namun dari teks ini, kita mengetahui bahwa Palah selain menjadi tempat suci dan pusat pengabdian masyarakat, juga merupakan pusat pembelajaran dan studi.
Kembalinya Bujangga Manik ke Rabut Palah setelah kunjungan sebelumnya selama tahun-tahun magangnya (1. 172) bukan untuk tujuan mengikuti ibadah umum di sana, tetapi untuk menambah pengetahuannya. Ia menghabiskan waktunya di Palah dengan membaca karya sastra dan hukum dalam bahasa Jawa (Aing bisa carek Jawa, "Saya mengenal bahasa Jawa", 1. 1063).
Dua gelar disebutkan di sini (11. 1060-1061). Salah satunya adalah Pandawa Jaya, yang pasti merujuk pada versi Jawa dari epos Mahabharata, mungkin salah satu Bharata Yuddha Jawa Kuno, yang terkait dengan Hikayat Perang Pandawa Jaya dalam bahasa Melayu (van der Tuuk 1875).
Gelar kedua yang disebutkan, Darmaweya, kurang mudah dikenali. Mungkin itu adalah singkatan dari Dharmavidyรค, bahasa Sanskerta yang berarti "pengetahuan tentang hukum". Setidaknya hal itu berkaitan dengan masalah hukum (suci).
Komplek candi Penataran
Saat memasuki area candi , kita akan di sambut oleh Dwarapฤla Dipintu masuk dengan inskripsi Angka tahun 1232 ลaka (1310 Masehi) terukir pada lapik masing-masing dwarapala yang dibangun oleh Raja Kedua Majapahit.
Setelah melewati kedua penjaga Dwarapฤla ini, kita akan memasuki bangunan persegi panjang, yang berukuran panjang 37 meter, lebar 18,84 meter dan tinggi 1,44 meter disebelah barat laut. Di atas ada pelataran yang di masing-masing sudutnya ada umpak-umpak batu yang diperkirakan sebagai penumpu tiang-tiang kayu yang digunakan untuk atap bangunan. Fungsi bangunan Bale Agung menurut N.J. Krom seperti juga di Bali dipergunakan untuk tempat musyawarah para pendeta atau pendanda. Dipastikan bale atau pendopo ini pernah dinaungi struktur tiang dan atap dari bahan organik kayu dan mungkin beratap ijuk atau sirap yang kini telah lapuk dan musnah.
Setelah dari Bale Agung kita akan menemui Pendapa Teras yang memiliki ukuran lebih kecil dari Bale Agung, yaitu 29,5m x 9,22m x tinggi 1,50. Pendapa Teras ini terdapat hiasan berupa naga yang berjumlah 8 ekor dan terdapat relief di dindingnya.
Tak jauh dari Pendapa Teras kita akan menjumpai Candi Angka Tahun , yang terbaca 1291 s atau 1369 Masehi yang terdapat pada ambang pintu masuk keruang Garbhagraha.
Didepan candi ini terdapat 2 arca yang berdiri berpakaian seperti dewa/bhatara , arca berpawakan laki-laki memegang aksamala dan bersenjatakan parasu(kapak). Sementara arca berpawakan wanita kedua tangan berada didepan dan kedua tangan belakang memegang aksamala dan padi.
Dihalaman ini juga terdapat sepasang miniatur candi.
Setelah melewati candi angka tahun , kita akan menjumpai bangunan persegi dengan ornamen naga yang melingkari bangunan dan di sangga oleh 9 bhatara dengan salah satu tangannya memegang lonceng. Menurut informasi candi ini disebut juga candi naga, dipugar pada tahun 1917-1918, dengan ukuran. 6,57x4,83 m dan tinggi 7,70m berbahan batu andesit. Selain itu pada dinding candi ini terdapat beberapa hiasan medalion.
Kemudian pada bagian belakang atau halaman belakang terdapat Candi induk yang memiliki 3 teras. Teras pertama terdapat cerita Ramayana, di teras ke 2 terdapat cerita krsnayana dan pada teras ke 3 / atas terdapat hiasan berupa ukiran naga dan singa yang bersayap. Didepan candi induk terdapat 4 Mahakala berdiri diatas lapik Padma dengan 2 diantaranya terdapat hiasan Kapala yang mengindikasikan sebuah aliran dari tantrayana, sementara itu dari masing - masing Mahakala ini terdapat inskripsi di lapiknya.
Prasasti Palah
Prasasti yang hingga saat ini masih in-situ, berisi tentang pemberian tanah sima untuk seseorang Mpu Iswara Mapanji Jagwata yang telah berjasa karna telah melakukan puja setiap hari kepada Bhatara i Palah (OJO LXXIV)
Sumber :
Wahyudi, D. Y. (2005). Rekonstruksi keagamaan candi Panataran pada masa Majapahit (Tesis Magister, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia), Depok.
Ismail Lutfi (1991) & N. J. Krom
Ismail Lutfi, M. (1991). Landasan keagamaan dan hukum pembangunan Kompleks Candi Penataran menurut Prasasti Palah. Jurnal Arkeologi, 75.
(Parafrase dari penelitian yang mengulas fungsi religius dan legal atas pembangunan kompleks Candi Penataran berdasarkan prasasti Palah; prasasti ini sebelumnya diterbitkan oleh J. L. A. Brandes dan N. J. Krom — “OJO”, no. LXXIV, hlm. 177.)
Krom, N. J. (tahun tidak disebut). Analisis dan terbitan prasasti Candi Palah (Prasasti Palah, OJO no. LXXIV, hlm. 177).
Bujangga Manik's Journeys Through Java . Noorduyn, J., & Teeuw, A. (2009). Bujangga Manik: Manuscript of Old Sundanese narrative poetry (Bibliotheca Indonesica, Vol. 33). Leiden: KITLV Press.
Tripnesian. (2017, 17 Januari). Antara Candi Penataran dan kisah perjalanan Bujangga Manik. Tripnesian (blog).
(refleksi pada narasi Bujangga Manik yang menyebut “Rabut Palah” sebagai tempat sang tokoh belajar di Candi Penataran).
Mpu Prapanca. (c. 1365). Nagarakretagama.
(disebut dalam konteks Candi Penataran sebagai situs pemujaan Hyang Acalapat oleh Hayam Wuruk, sebagaimana dirujuk dalam literatur sejarah modern).
Santiko, H. (tahun tidak disebut). Candi Pantaran: Candi Kerajaan Masa Majapahit. Dalam penelitiannya, disebut bahwa pembangunan Candi Penataran (candi induk) dimulai pada masa Raja Jayanagara dan dilanjutkan hingga era Ratu Suhita, serta merupakan pusat spiritual dan tempat pendidikan agama (Kadewaguruan).
IDN Times (editor). (2024, ditinjau). 5 fakta sejarah berdirinya Candi Penataran di Blitar. IDN Times.
(mencatat tujuan pendirian candi sebagai pelindung dari letusan Gunung Kelud, serta simbol Naga Basuki dan detail angka tahun Saka)
Wikipedia. (2025). Penataran (Candi Penataran)(menjelaskan periode konstruksi abad ke‑12 hingga abad ke‑15, penyebutan dalam Nagarakretagama, serta fungsinya sebagai tempat keberagamaan Majapahit)
Ismail Lutfi, M. (1991). Landasan keagamaan dan hukum pembangunan Kompleks Candi Penataran menurut Prasasti Palah. Jurnal Arkeologi, 75.
(Parafrase dari penelitian yang mengulas fungsi religius dan legal atas pembangunan kompleks Candi Penataran berdasarkan prasasti Palah; prasasti ini sebelumnya diterbitkan oleh J. L. A. Brandes dan N. J. Krom — “OJO”, no. LXXIV, hlm. 177.)









Tidak ada komentar:
Posting Komentar