Sabtu, 09 Agustus 2025

ASTANA GEDONG JEJAK SEJARAH ARKEOLOGI ISLAM TULUNGAGUNG

𝘼𝙨𝙩𝙖𝙣𝙖 𝙂𝙚𝙙𝙤𝙣𝙜: 𝙈𝙚𝙣𝙮𝙞𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 𝙅𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙢 𝙏𝙪𝙖 𝙙𝙞 𝘽𝙖𝙡𝙞𝙠 𝙈𝙞𝙨𝙩𝙚𝙧𝙞 𝙉𝙖𝙢𝙖 𝙆𝙚𝙩𝙖𝙬𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣





Pada awal abad ke-18, Jawa Tengah dan Timur berada dalam pusaran pergolakan politik yang rumit. Kerajaan Mataram, yang berpusat di Kartasura, berusaha mempertahankan kendali atas wilayah-wilayah strategis setelah masa panjang perang internal dan disintegrasi. Tahun 1709, ketika Pakubuwana I naik takhta, sebagian besar daerah telah kembali di bawah panji Mataram. Hanya Pasuruan dan sekitarnya yang tetap kukuh di tangan Untung Surapati, tokoh pemberontak yang menjadi duri dalam daging kekuasaan Jawa.




Antara 1709–1719, tercatat masa relatif damai sebelum pecah Perang Surabaya yang melibatkan penumpasan Bupati Surabaya, Adipati Jayapuspita, sekutu Surapati. Meski demikian, Mataram masih dibebani kewajiban berat kepada VOC yaitu menyerahkan komoditas tertentu sesuai perjanjian. Untuk memenuhi kewajiban itu, Pakubuwana I menyusun daftar daerah yang wajib menyetor hasil bumi kepada VOC, yang juga menjadi potret pembagian wilayah kekuasaan saat itu.


Di antara struktur wilayah yang tercatat, terdapat Mancanagara Timur, dan terbagi menjadi dua kawedanan:


1. Kawedanan Tumenggung Surawijaya di Jipang membawahi Jipang, Madiun, Rawa-Kalangbret (Tulungagung sekarang), Jagaraga, Pacitan-Kadawung, Japan, Selakaras, dan Warung-Kuwu.


2. Kawedanan Adipati Ketawengan  membawahi Kediri-Balitar, Srengat, Kertasana, Pace, Japan, Wirasaba, Panaraga, dan Blora.


Nama Adipati Ketawengan inilah yang kelak sering dikaitkan dengan sebuah kompleks makam tua di Astana Gedong, Tulungagung. Namun, penyelidikan epigrafi memunculkan misteri baru yang tak kunjung usai untuk diteliti lebih lanjut . Di sisi selatan makam utama, terdapat nisan bertanggal dengan aksara Jawa Kuna 1470 Saka (1548 M), hampir seabad sebelum berdirinya Mataram Islam. Artinya, mustahil makam utama di situ merupakan pusara pejabat Mataram Kartasura awal abad ke-18.


Kaidah tata letak makam Islam di Jawa biasanya menempatkan makam utama atau tertua di bagian utara, barat, atau tengah dengan jirat tinggi. Kehadiran nisan tua di sisi selatan justru mengisyaratkan bahwa kompleks tersebut sudah eksis jauh sebelum masa Pakubuwana I, bahkan sebelum Mataram berdiri.


Ngabei Katwengan: Penguasa Kediri dan Sekutu Surapati


Sosok Katwengan juga terekam dalam catatan asing. Tahun 1706, seorang pendeta Yezuit Belanda, Francois Valentijn, mengunjungi Kediri dan menulis dalam karyanya Oud en Nieuw Oost-Indien (1862):


> "Kota Kediri kerajaan terbesar, dan terletak istana di negeri itu, memiliki kepala Ngabei Ketawengan, keluarga dekat Surapati, dan putrinya dikawinkan oleh salah seorang putera Surapati. Kota Kediri luasnya sekitar 2 mil, dan berpenduduk 10.000 rumah tangga."

(Valentijn, 1862, hlm. 204)


Catatan ini menegaskan Kediri sebagai pusat kekuasaan penting di pedalaman Jawa Timur, sekaligus mengungkap hubungan erat Katwengan dengan Untung Surapati, aliansi politik yang jelas berseberangan dengan kepentingan VOC dan Kartasura.


Sumber arsip VOC tahun 1737 masih menyebut Katwengan sebagai penguasa Kediri, namun pada 1743 namanya digantikan Tumenggung Suradaha. Sejarawan H.J. de Graaf berpendapat Katwengan bukan sekadar nama seorang pejabat, melainkan gelar sebuah dinasti lokal (vorstenhuis) yang memerintah Kediri pada abad ke-18. Sedikitnya ada empat penguasa Kediri yang menyandang gelar Katwengan selama periode sebelum abad ke 18 itu.


Dalam catatan nya, Kediri memiliki wilayah sekitar dua mil dan penduduk 10.000 rumah tangga merupakan sebuah jumlah besar . Kediri menjadi pusat administrasi, perdagangan, dan pertanian subur di lembah Brantas. Letak strategisnya menjadikan kota ini rebutan kekuatan lokal dan pusat kekuasaan Kartasura.


Di tingkat lokal, dinasti Katwengan memainkan peran penting, baik sebagai mitra maupun penantang kekuasaan pusat, tergantung arus politik dan jaringan aliansi.


Astana Gedong: Warisan yang Lebih Tua dari Mataram


Keterkaitan nama Katwengan dengan makam utama di Astana Gedong kemungkinan besar hanyalah asumsi yang lahir dari kemiripan nama dan tradisi lisan, bukan bukti historis yang kuat. Bukti epigrafi dan tipologi nisan justru menunjukkan bahwa kompleks pemakaman itu sudah ada sejak abad ke-16, jauh sebelum figur Katwengan yang dikenal dalam catatan Mataram.


Dengan demikian, penisbatan makam utama di Astana Gedong sebagai makam Tumenggung atau Adipati Ketawengan kemungkinan besar hanyalah asumsi yang terlanjur hidup, tanpa dasar sejarah yang kokoh. Yang tersisa kini adalah jejak sunyi sebuah pemakaman kuno, yang menyimpan kisah lebih tua dari riwayat Mataram itu sendiri yang menunggu untuk diungkap kembali.


Referensi :


Ricklefs, M. C. (1993). War, culture and economy in Java, 1677–1726: Asian and European imperialism in the early Kartasura period. Sydney: Asian Studies Association of Australia in association with Allen & Unwin and University of Hawai'i Press.


Wikipedia. (2025, Agustus 10). Kesultanan Mataram. Dalam Wikipedia bahasa Indonesia. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram


Scribd. (n.d.). Kesultanan Mataram. Diakses 10 Agustus 2025, dari https://id.scribd.com/document/810206906/Kesultanan-Mataram


Valentijn, F. (1862). Oud en Nieuw Oost-Indien (Vol. 3). Amsterdam: Wed. J.C. van Kesteren & Zoon.


De Graaf, H. J. (1977). Kediri en het geslacht Katwengan van 1500–1700. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 133, 420–437.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KITAB SULUK SUNAN BONANG

  (1) Bismi'llahi'rrah'mani'rrahimi, wa bihi nasta’in alhamdu lillahi rabbil alamin,  wa shalatu 'ala rasulihi Muhammadi...