Minggu, 27 Agustus 2023

SHOLAT SYARIAT DAN SHOLAT JASMANI

 



Sebagaimana Syehk Abdul Qadir pernah mengatakan tentang shalat syariat yang ada di dalam alqur'an

" Hendaklah kammu menjaga shalatmu dan shalat yang ditengah " . QS-AlBaqarah 2: 238.

Yang dimaksud disini adalah shalat mu yang syariat yang merupakan ritual  shalat yang wajib kamu laksanakan beserta rukun-rukunnya yang berkaitan dengan gerakan  anggota badan, yaitu berdiri dengan menghadap kiblat , membaca surat atau ayat suci , rukuk , sujud dsb...Oleh karenanya ayat diatas menerangkan dengan kata shalatmu.  

Adapun shalat Ruhani yaitu shalatnya Ruh beserta seperangkat angota-anggotanya yang lain, yang dimana shalat ini dilakukan secara terus menerus tanpa batas waktu atau "sholat langgeng tan keno pegat", Ayat diatas selain menerangkan tentang shalat syariat juga menerangkan tentang shalat yang ditengah atau shalat wustha. Maksud shalat wustha ini ialah shalat yang diluar shalat syariat yaitu yang ditengah, ditengah - tengah antara badan dan batin , yang menjelaskan antara pikiran dan rasa. Karena untuk sampai kepada-Nya hanya ruhani-lah yang bisa , sebab unsur ruhani merupakan sebab dan  asal dari pancaran atau percikan dari-Nya.

Dan kemudian pernyataan ini dipertegas dengan Sabda Nabi:

"Sesungguhnya kalbu manusia ada diantara dua jari Allah , Allah membolak-balikan sesuai kehendak-Nya ". (HR.Muslim).

Keterangan dari jari Allah ini bukan serta merta Allah memiliki dua jari yang mirip manusia karena Allah berbeda dengan mahkluk-Nya ,yang tak pernah bisa diserupakan dengan sesuatu apapun "laisa kamitslihi syaiun" , tetapi lebih kepada suatu perumpamaan dalam pendekatan kepada-Nya. Jadi kembali lagi, bahwa dua jari diatas adalah suatu sifat  Allah yaitu Maha Kuasa dan Maha Lembut. Demikian ayat diatas tadi menjelaskan bahwa shalat yang pokok adalah shalat ruhani.Dan apabila shalat ini dilupakan maka rusaklah shalat-shalat yang lain. Karena sejatinya shalat bukan hanya badannya saja yang shalat tetapi juga rasanya juga ikut shalat , itulah yang kami sebut bahwa sholat itu roshone ora lat atau rasanya tidak pernah lepas atau rasane langgeng tan keno pegat.

Dipertegas lagi oleh sabda Nabi :

" Tidak sah shalat seseorang kecuali disertai dengan hadirnya hati atau rasa". Hal itu dikarenakan orang yang shalat itu sejatinya sedang ber-Mi'raj kepada Tuhannya. Sedangkan, alat untuk ber-Mi'raj adalah rasanya atau ruhaninya. Bila rasanya lepas atau pikirannya melanglang buana sewaktu shalat maka batal-lah shalat ruhani seperti yang tertera didalam suatu dalil " Maka celakah bagi orang-orang yang shalat,orang-orang yang lalai dalam sholatnya ". QS-AlMa'un 4-5

Dan batal pula adapun shalat syariatnya. Karena ruhani merupakan inti atau hakikat diri yang sejati, dimana ketika ada gerak ruhani maka gerak jasmani nya mengikuti.

Diperkuat lagi dengan sabda Nabi :

" Didalam tubuh manusia ada segumpal daging , bila ia baik maka sekujur tubuh akan ikut baik dan bila ia buruk maka sekujur tubuh juga menjadi buruk . itulah hati ( rasa ). (HR. Bukhori)

Sebenarnya didalam ajaran ini shalat itu tak terbatas atau tan keno winates atau tan keno pegat, sebab sholat yang sesungguhnya sholat adalah sholat yang gerak lahir dan batin , gelar gulung dan syariat hakikat berjalan beriringan, Namun dalam penerapannya shalat terbagai menjadi dua bagian,syariat yang mempunyai waktu tertentu, yang sehari semalam dikerjakan lima kali dalam lima kali dengan waktu yang ditentukan .

Sedangkan sholat ruhani dijalankan tanpa batas waktu,tanpa jadwal waktu yang dilakukan secara continue terus-menerus. Sholat syariat sunnahnya bisa dilakukan di masjid dengan berjamaah , menghadap kiblat mengikuti gerakan imam. Namun sholat ruhani masjidnya ada didalam diri yaitu hati atau qolbu atau rasa atau yang disbut Baitul Muharram. Shalat ini didalam penegerjaannya dilakukan dengan cara memadu kesucian batin untuk selalu menyibukkan diri dengan dzikrullah melalui lisan batin, dimana seperti yang telah diulas di bab dzikir nafas.

Jadi didalam shalat ini juga kita menemukan imam nya yaitu alam cipta sebagai baitul ma'mur untuk bisa menuntun sampai kepada Allah , dan kiblatnya pun ialah dimana Allah itu berada seperti hadist "dimana kamu menghadap disitu ada wajah Allah" . Itulah kiblat yang hakiki , kiblat dimana segala arah tertuju yang tak menemui bentuk kebendaan atau sifat seperti timur ataupun barat. Selamanya shalat rasa dan ruhani ini tidak boleh lepas atau langgeng.

Rasa yang hidup tidak akan tertidur ataupun mati atau owah gingsir , ia akan selalu memiliki kegiatan baik saat badan tertidur maupun badan terjaga, Sholat ini dilakukan dengan hidupnya rasa yang tanpa suara atau leremnya segala atribut yang berunsur.

Al-Qadhi mengatakan didalam tafsirannya "Ayat ini menjelaskan isyarat tentang sebuah hati sesorang yang telah mencapai ma'rifat kepada Allah yang telah berpindah dari hanya tahu tentang Allah kepada hadirat Ahadiyah yang berarti selalu bersama Allah " yang menandakan bahwa kesadaran murni telah bangkit. Dan ini sesuai dengan sabda Nabi : " Para nabi dan para wali selalu sholat dialam kuburnya, seperti halnya mereka shalat didalam rumahnya",

Artinya : mereka selalu sibuk sholat yang berarti berdzikir didalam dirinya , di alam kubur maksudnya adalah kubur jasadnya ini, bahwa mereka selalu berupaya unutuk terus selalu sadar untuk terus bermunjat kepada Allah.

Bila sholat syariat dan sholat ruhani telah berpadu secara lahir dan batin , gelar klawan gulung , maka sempurnalah shalatnya. Ia bahkan tak pernah punya waktu untuk memikirkan atau berpikiran buruk terhadap orang lain.

Maka orang yang melakukan shalat seperti ini berarti ia lahiriahnya ahli ibadah, dan batinnya ‘รขrif billรขh(makrifatkepada Allah). Dan, bila shalatnya tak berpadu antara shalat syariat dan shalat tarekat dengan hati yang hidup, maka shalatnya kurang dan pahalanya pun hanya derajat, tidak mendapat pahala


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KITAB SULUK SUNAN BONANG

  (1) Bismi'llahi'rrah'mani'rrahimi, wa bihi nasta’in alhamdu lillahi rabbil alamin,  wa shalatu 'ala rasulihi Muhammadi...